Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

TB Simatupang Resmi Bergelar Pahlawan Nasional

Setelah 23 tahun wafat, Letjen TNI (Purn) Tahi Bonar Simatupang akhirnya mendapatkan gelar Pahlawan Nasional. Penganugerahan gelar itu dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, Jumat (8/11/2013).
Sukirno
Sukirno - Bisnis.com 09 November 2013  |  00:30 WIB

Bisnis.com, MEDAN - Letjen TNI (Purn) Tahi Bonar Simatupang akhirnya mendapatkan gelar Pahlawan Nasional setelah 23 tahun wafat dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Gubernur Sumatra Utara Gatot Pujo Nugroho didampingi keluarga almarhum TB Simatupang menerima gelar Pahlawan Nasional di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (8/11/2013). Suasana haru meliputi pemberian gelar pahlawan nasional yang diterima oleh keluarga almarhum.

TB Simatupang lahir di Sidikalang, Sumut, pada 28 Januari 1920, dan wafat pada 1 Januari 1990.

Selain Letjen TNI (Purn) Tahi Bonar Simatupang, SBY juga menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden (Kepres) kepada almarhum KRT Radjiman Wediodiningrat dan almarhum Lambertus Nicodemus Palar.

Upacara penganugerahan disaksikan Wakil Presiden Boediono, Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho, Gubernur Sulawesi Utara Sinyo Harry Sarundajang, pimpinan lembaga negara, jajaran menteri Kabinet Indonesia Bersatu II beserta para ahli waris ketiga Pahlawan Nasional.

TB Simatupang yang dikenang lewat jalan arteri dikawasan Lebak Bulus – Pasar Rebo, Jakarta Selatan, merupakan pencetus ide tentang Sumpah Prajurit dan Sapta Marga yang saat ini dikenal jajaran Tentara Nasional Indonesia (TNI).

TB Simatupang dilahirkan dalam sebuah keluarga sederhana yang ayahnya bernama Simon Mangaraja Soaduan Simatupang bekerja sebagai pegawai kantor pos.

TB Simatupang menempuh pendidikannya di HIS Pematangsiantar dan lulus pada 1934, kemudian melanjutkan sekolahnya di MULO Tarutung 1937, lalu ke AMS di Jakarta dan selesai pada 1940.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya, Simatupang mendaftarkan diri dan diterima di Koninklije Militaire Academie (KMA) sebuah akademi untuk anggota KNIL, di Bandung dan selesai pada 1942, bertepatan dengan masuknya tentara Jepang ke Indonesia yang kemudian merebut kekuasaan dari pihak Belanda.

Dalam masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, Simatupang turut berjuang melawan penjajahan Belanda. Ia diangkat menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Perang RI (1948-1949) dan kemudian dalam usia yang sangat muda dia menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Perang RI (1950-1954).

Pada tahun 1954-1959 dia diangkat sebagai Penasehat Militer di Departemen Pertahanan RI. Ia kemudian mengundurkan diri dengan pangkat Letnan Jenderal dari dinas aktifnya di kemiliteran karena perbedaan prinsipnya dengan Presiden Soekarno pada waktu itu.

Simatupang pernah mengatakan bahwa ada tiga Karl yang memengaruhi hidup dan pikirannya, yaitu Carl von Clausewitz, seorang ahli strategi kemiliteran, Karl Marx dan Karl Barth, teolog Protestan terkemuka abad ke-20.

Seluruh kehidupan Simatupang mencerminkan peranan ketiga pemikir besar itu. Setelah melepaskan tugas-tugas aktifnya sebagai militer, Simatupang terjun ke pelayanan Gereja dan aktif menyumbangkan pemikiran-pemikirannya tentang peranan Gereja di dalam masyarakat.

Dalam aktivitas gerejawinya itu, ia pernah menjabat sebagai Ketua Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, Ketua Majelis Pertimbangan PGI, Ketua Dewan Gereja-gereja Asia, Ketua Dewan Gereja-gereja se-Dunia, dan banyak lagi jabatan atau aktifitas yang dilakukannya semasa hidupnya.

Dilingkungan kemasyarakatan, Simatupang menjabat sebagai Ketua Yayasan Universitas Kristen Indonesia dan Ketua Yayasan Institut Pendidikan dan Pembinaan Manajemen (IPPM). Ia bahkan merupakan salah satu pencetus lembaga pendidikan ini, ketika di Indonesia belum banyak orang yang memikirkannya.

Simatupang percaya bahwa Indonesia membutuhkan pemimpin-pemimpin yang menguasai ilmu manajemen di dalam perusahaan maupun di tengah masyarakat.

Pada 1969 Simatupang dianugerahi gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Tulsa, Oklahoma, Amerika Serikat.

TB Simatupang menikahi putri asal Yogyakarta bernama Sumarti Budiardjo yang adalah adik dari teman seperjuangannya Ali Budiardjo. Dari perikahannya mereka dikaruniai empat orang anak, yaitu Tigor, Toga, Siadji, dan Ida Apulia.

Salah seorang di antaranya telah meninggal dunia, dan TB Simatupang saat ini dikarunia empat cucu, yaitu, Satria Mula Habonaran, Larasati Dameria, Kezia Sekarsari, dan Hizkia Tuah Badia.

TB Simatupang tidak hanya sebagai prajurit dan pemimpin di TNI tetapi dia juga aktif sebagai penulis buku yang merupakan landasan TNI, politik, biografi yang khususnya mengenai TNI.

Sementara itu, Gubernur Gatot Pujo Nugroho menyatakan ucapan terimaksih kepada Presiden SBY yang telah resmi memberi gelar kepada TB Simatupang yang merupakan putra terbaik dari Sumut.

“Masih ada tiga lagi putra terbaik dari Sumut yang diajukan kepada negara untuk mendapatkan gelar pahlawan nasional, yang diharapkan pemerintah dapat memprosesnya dengan ketentuan yang ada sehingga ketiga putra terbaik Sumut ini nantinya juga mendapat gelar seperti TB Simatupang,” kata dia.

Menurutnya ketiga calon Pahlawan Nasional dari Sumut yang telah diajukan ke pemerintah adalah Sang Dawaluh Damanik, Malanton Siregar dan Tuan Rondahmam Damanik.

“Ketiga putra Sumut ini layak mendapatkan gelar Pahlawan Nasional, karena itu Pemprov Sumut telah mengajukan ketiga nama tersebut untuk dapat diproses sebagaimana mestinya hingga menjadi Pahlawan Nasional,” jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pahlawan nasional.
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top