Sektor Perumahan Picu Inflasi Balikpapan

BISNIS.COM, BALIKPAPAN--Tingginya bobot inflasi sewa rumah pada tiga kota di Kalimantan Timur yang dipantau secara periodik tingkat inflasinya yakni Balikpapan, Samarinda dan Tarakan disebabkan oleh karakteristik sebagai kota tujuan pendatang pekerja.
Rachmad Subiyanto
Rachmad Subiyanto - Bisnis.com 09 Mei 2013  |  18:33 WIB

BISNIS.COM, BALIKPAPAN--Tingginya bobot inflasi sewa rumah pada tiga kota di Kalimantan Timur yang dipantau secara periodik tingkat inflasinya yakni Balikpapan, Samarinda dan Tarakan disebabkan oleh karakteristik sebagai kota tujuan pendatang pekerja.

Kepala Bidang Statistik Produksi BPS Kaltim Rosmawati mengatakan sebagai daerah transit, tarif sewa rumah di Kaltim memiliki bobot yang cukup tinggi terhadap inflasi.

Beberapa daerah lain yang memiliki karakteristik yang sama dengan Kaltim juga memiliki bobot yang hampir sama.

"Memang seperti itu karakteristiknya. Ini untuk sewa rumah yang per bulan semacam kos-kosan," ujarnya ketika dihubungi Bisnis, Rabu (8/5/2013).

Inflasi pada April di Kaltim, andil kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar mencapai 0,24% terhadap inflasi bulanan yang mencapai 0,20%. Akibatnya, terjadi inflasi kendati bahan makanan yang selama ini mengendalikan inflasi justru mengalami deflasi.

Di Balikpapan, Kepala Seksi Statistik Produksi BPS Kota Balikpapan Umar Riyadi mengatakan kontribusi sektor perumahan terhadap inflasi mencapai 0,21% terhadap total inflasi kota itu yang mencapai 0,11%.

Biaya sewa rumah menjadi penyumbang terbesar inflasi karena memberi kontribusi sebesar 0,13%.

“Memang lebih tinggi kalau dibandingkan bulan sebelumnya. Tetapi kami belum bisa menemukan kemungkinan penyebabnya,” katanya.

Kenaikan upah minimum kota pada awal tahun bisa juga menjadi salah satu penyebab yang mengerek kenaikan biaya sewa rumah. Umar berpendapat ada penyesuaian harga kendati alasan ini kemungkinan kecil menjadi salah satu penyebabnya.

Rosmawati menyebutkan bobot tersebut masih berdasarkan pada survei biaya hidup (SBH) 2007. Adapun untuk perhitungan SBH 2012, perhitungan masih berlangsung hingga pertengahan tahun dan baru akan masuk dalam perhitungan pada pertengahan tahun ini.

Tentunya, pada SBH yang baru akan ada penyesuaian pada bobot dan jumlah komoditas yang dipantau.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Tutuk S.H. Cahyono berpendapat kelompok pengeluaran perumahan menjadi salah satu kelompok yang berpotensi mengerek inflasi sejak lama.

Hal ini bisa dilihat dari bobot inflasi yang cukup besar pada sub sektor sewa rumah yang mencapai 6,67%.

“Kalau bobotnya besar berarti menunjukkan adanya masalah yang terus menerus terjadi sehingga terakumulasi,” katanya.

Selain itu, ada juga komponen biaya tak terduga yang menjadi penyebab tingginya harga rumah tersebut. Pemerintah perlu memerhatikan kondisi ini agar tidak terus menggerogoti daya beli konsumen yang sebagian besar bersandarkan hidup sebagai karyawan. (wde)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank indonesia, Inflasi, bps, balikpapan

Sumber : Rachmad Subiyanto

Editor : Wiwiek Endah

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top