Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Setelah China, Kini Diganggu Bom Marathon Boston

Bursa AS memasuki masa kelam. Sejak 7 November, saham-saham AS terus meraup 'nasib'  buruk mereka, setidaknya, hingga Senin (15/4/2013). Pemicunya, anjloknya harga emas, minyak dan komoditas lainnya yang memberi selloff  luas pada ekuitas.
Martin Sihombing
Martin Sihombing - Bisnis.com 16 April 2013  |  07:40 WIB

Bursa AS memasuki masa kelam. Sejak 7 November, saham-saham AS terus meraup 'nasib'  buruk mereka, setidaknya, hingga Senin (15/4/2013). Pemicunya, anjloknya harga emas, minyak dan komoditas lainnya yang memberi selloff  luas pada ekuitas.

Lagi-lagi, lemahnya pertumbuhan ekonomi China dari perkiraan menjadi 'biang keladi' penurunan, tetapi aksi jual cepat pada akhir sesi, akibat terjadinya dua ledakan di Boston. Tepatnya, dekat garis finish dari Boston Marathon. Ini  membuat investor terkesima.

Saham komoditas menjadi leader  untuk saham yang merugi. Terutama akibat derita tiada akhir emas, yang mengalami hari buruk selama dua hari dalam 30 tahun terakhir. Ini dipicu kekhawatiran terhadap data China. SSPDR  Gold Share ETF kehilangan 8,8% menjadi US$131,31.

Total volume saham yang diperdagangkan mencatat yang tertinggi kedua tahun ini, dengan sekitar 8,5 miliar saham berpindah tangan di bursa AS.

Para analis mengatakan pasar saham rentan terhadap kemerosoatan, mengingat Dow sejak awal tahun mengalami kenaikan tajam dan rekor tertinggi kenaikan S & P 500 baru-baru ini. S & P 500 masih naik 8,8% untuk tahun ini.

"Saya berpikir pasar tidak memiliki toleransi banyak untuk berita buruk," kata Uri Landeman, Presiden Platinum Partner di New York.

“Jumlah PDB China yang buruk, saya pikir membuat orang ketakutan untuk memulai, dan adanya faktor teknis. Profit taking pun mulai mengambil alih. Lalu, pada hari ini, kami menerima laporan ada ledakan di Boston. Itu membuat orang gugup." Setidaknya, dari ledakan itu, dua orang tewas dan puluhan luka-luka.

The Dow Jones industrial average merosot 265,86 poin, atau 1,79%, ditutup pada 14.599,20. Indeks Standard & Poor 500 turun 36,49 poin atau 2,30%, ke 1.552,36. Index Nasdaq Composite kehilangan 78,46 poin atau 2,38%, menjadi berakhir pada 3.216,49.

Penurunan itu terbesar untuk transkasi harian ketiga indeks tersebut sejak November 7, ketika pasar dibuka usai  pemilihan Presiden AS.

Sektor penurunan terbesar adalah dari kelompok -sahamsaham energi dan bahan baku.  Indeks saham sektor energi S&P kehilangan 3,9%. Indeks S & P sektor material juga turun 3,9%.

Exxon Mobil turun 2,8% menjadi US$86,49 dan memimpin penurunan S & P 500, sementara saham tambang Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc anjlok 8,3% menjadi US$29,27.

Data menunjukkan tingkat pertumbuhan tahunan China menurun kembali menjadi 7,7% dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang mencatat 7,9%  dan di bawah perkiraan ekonom 8,0%.

“Reaksi negatif dari semua itu, terutama -–mungkin-- karena marjin call dari emas, yang tumpah ke saham, dan itu sesuatu yang oleh kebanyakan investor tidak ingin diraup di depan. Jadi kami telah melihat aksi jual mendominasi hari hari ini, "kata Bucky Hellwig, Wakil Presiden senior Wealth Management BB & T di Birmingham, Alabam..

Indeks CBOE Gold ETF Volatilitas, yang mengukur ekspektasi pasar terhadap volatilitas harga emas dalam satu bulan dengan menerapkan metodologi VIX untuk pilihan pada SPDR Gold Shares, melonjak 61,7% - keuntungan terbesar dalam sejarah. Indeks, sering disebut VIX Gold, mencapai level tertinggi dalam 52 minggu, yakni 35,39.

Penurunan saham lainnya termasuk Dish Network, yang jatuh 2,3% menjadi US$36,77 setelah perusahaan penyedia televisi satelit terbesar kedua di AS , mengajukan penawaran pembelian Sprint Nextel Corp  senilai US$25,5 miliar, baik tunai maupun saham. Saham Sprint melonjak 13,5% menjadi US$7,06. Tawaran itu bisa menggagalkan rencana akuisisi Sprint oleh SoftBank  Jepang.

Di antara peraup gainers hari itu, Citigroup, yang naik tipis 0,2% menjadi US$44,87 setelah melaporkan keuntungan yang lebih tinggi dari yang diperkirakan (31%) pada laba kuartal pertama.(msb)

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as dow jones bursa saham s&p 500

Sumber : Bloomberg

Editor : Martin Sihombing
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top