Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

AHOK VS FARHAT ABBAS: Anton Medan Nasihati Ahok Tidak Terpancing Emosi

JAKARTA-Perseteruan Farhat Abbas dengan Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) terkait kicauan di Twitter bernada SARA, terus bergulir.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 18 Januari 2013  |  17:10 WIB

JAKARTA-Perseteruan Farhat Abbas dengan Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) terkait kicauan di Twitter bernada SARA, terus bergulir.

Pekan depan, Anton Medan yang membela Ahok, dipanggil oleh Polda Metro Jaya untuk dimintai keterangan. “Harusnya minggu ini, mungkin karena banjir baru pekan depan,” kata Anton Medan di Balai Kota, hari ini (18/1).

Anton mengaku telah menasihati Ahok untuk tidak terpancing emosi meski terus diserang oleh Farhat. Melalui akunnya [email protected], Jokowi-Ahok dinilai telah gagal mengatasi kemacetan dan banjir sehingga pantas untuk pulang kampung ke Solo dan Belitung.

“Ini dipancing, saya harap Ahok tidak terpancing ulah Farhat yang hanya cari sensasi. Orang gila itu,” ujarnya.

Sebelumnya Anton Medan melaporkan pengacara Farhat Abbas ke Polda Metro Jaya pada Kamis (10/1/) dengan dugaan melanggar pasal 4 huruf (b) ayat (1) UU No.40 Tahun 2004 tentang penghapusan diskriminasi ras dan etnis serta pasal 28 ayat (1) juncto pasal 45 ayat (2) Undang Undang nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik (ITE).

Gatot Goei, kuasa hukum Anton Medan mengatakan secara gramatikal kata-kata Farhat dalam akun twitter yang menyatakan Ahok China menandakan sifat kebencian. Dengan kata Cina itu sudah menyindir dan apabila mendatangkan ahli bahasa sudah dipastikan itu statemen kebencian yang menyinggung etnis.

Gatot menilai UU tentang diskriminasi di Indonesia lebih progresif dibandingkan dengan Amerika Serikat sehingga ruang untuk mempidanakan lebih mudah. Kalau di AS melanggar UU Diskriminasi etnis harus didahului dengan tindakan kekerasan baru bisa dipidana.

"Kalau di Indonesia UU tentang diskriminasi lebih progresif sehingga orang sampaikan kebencian itu sudah dipidana,” ujarnya. (38/yus)
 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Akhirul Anwar

Editor : Yusran-nonaktif

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top