TARIF LISTRIK NAIK: Pengusaha Naikkan Harga Jual Produknya

SEMARANG -- Para pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng akan menaikkan harga jual produknya sebesar 10%-20% menyusul pemberlakuan kenaikan tarif tenaga listrik (TTL) bagi pelanggan di atas 900 VA per 1 Januari 2013.
News Editor | 28 Desember 2012 14:16 WIB

SEMARANG -- Para pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng akan menaikkan harga jual produknya sebesar 10%-20% menyusul pemberlakuan kenaikan tarif tenaga listrik (TTL) bagi pelanggan di atas 900 VA per 1 Januari 2013.

Ketua Apindo Jateng Frans Kongi mengatakan para pengusaha di Jateng tidak ada pilihan lain selain bersiap menaikkan harga jual produknya dipasaran mengingat sejumlah kebijakan pada 2013 mendatang dinilai semakin memberatkan para pelaku industri, terutama kenaikan listrik dan upah minimum kabupaten/kota (UMK).

“Dengan kondisi tahun depan dengan adanya kenaikan tarif listrik dan UMK, mau tidak mau pembengkakan biaya itu akan kami bebankan kepada konsumen, harganya bakal naik sekitar 10%-20%, tergantung respon pasar,” tuturnya kepada Bisnis, Jumat (28/12/2012).

Dia mengatakan kenaikan harga jual produk tersebut kemungkinan juga akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi daya beli masyarakat dilapangan, dan apabila pasar tidak merespon dengan baik, tidak ada pilihan lain dengan mengurangi produksi.

“Kami serba sulit, dengan membengkaknya ongkos produksi, kalau tidak dibebankan kepada konsumen tidak mungkin. Namun begitu juga mengandung resiko mengurangi daya saing, terutama dengan produk impor,” tuturnya.

Menurutnya para pengusaha akhirnya pasrah menerima kebijakan pemerintah itu, namun demikian diharapkan banyak kemudahan yang diberikan kepada para pengusaha juga, seperti pemberian insentif pajak, penghapusan bea masuk impor bahan baku, kemudahan akses keluar masuk barang, peningkatan pelayanan publik, dan lainnnya.

“Pelaku industri dipastikan akan melakukan efiiensi besar-besaran. Namun demikian, efisiensi sebaiknya juga dilakukan Perusahan Listrik Negara (PLN), misalkan mengurangi atau mengganti pengunaan bahan bakar minyak untuk pembangkitnya dengan batubara, menertibkan tunggakan-tunggakan pelangggan,” ujarnya.

Menurut Frans, kenaikan listrik yang hanya dibebankan pada pengguna berdaya besar, diatas 900 VA itu kurang adil. “Harusnya kenaikan juga diberlakukan merata ke semua golongan pelanggan. Terlebih sekitar 1,5 tahun lalu dunia usaha sudah dibebani kenaikan TTL hingga 30 %,” ujarnya.

Ketua Lembaga Pembinaan Perlindungan Konsumen (LP2K) Jateng Ngargono menilai dampak kenaikan TTL bakal tetap dirasakan masyarakat pengguna listrik berdaya 450 VA dan 900 VA, meskipun kebijakan itu hanya diberlakukan bagi pelanggan diatas 900 VA.

“TTL naik, ongkos produksi naik, dan itu pasti akan dibebankan ke konsumen. Jadi meski TTL pelanggan 450 VA dan 900 VA tidak dinaikkan namun secara tidak langsung imbasnya tetap mereka rasakan,” tuturnya.

Pihaknya meminta para pelaku usaha agar tidak menaikkan harga jual produkny aterlalu tinggi, dengan pertimbangan melihat kemampuan daya beli dimasyarakat saat ini yang masih rendah.

“PLN sendiri diharapkan juga meningkatkan performa kinerjanya dalam memberikan pelayanan pada pelanggan, seperti kapan saatnya aliran listrik diperbolehkan dimatikan untuk perawatan dan berapa lama waktunya, sehingga tidak merugikan pelanggan,” tuturnya. (k39/dot)

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Puput Ady Sukarno

Editor : Reporter 1

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup