Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BEDAH BUKU BLUR: Ruang redaksi sudah hancur

JAKARTA: Sedikitnya terdapat delapan fungsi  yang harus dijalankan oleh wartawan di tengah-tengah makin maraknya informasi di ranah media-media sosial dan tajamnya penetrasi internet di masyarakat. Di antaranya adalah authenticator dan investigator
Inda Marlina
Inda Marlina - Bisnis.com 27 Desember 2012  |  20:41 WIB

JAKARTA: Sedikitnya terdapat delapan fungsi  yang harus dijalankan oleh wartawan di tengah-tengah makin maraknya informasi di ranah media-media sosial dan tajamnya penetrasi internet di masyarakat. Di antaranya adalah authenticator dan investigator dalam menyampaikan informasi.Hal itu disampaikan Andreas Harsono, Ketua Yayasan Pantau, dalam bedah buku 'Blur: How to Know What's True in the Age of Information Overload. Yayasan Pantau bekerja sama dengan Dewan Pers menterjemahkan buku tersebut ke dalam bahasa Indonesia dan diluncurkan pada hari ini. Buku tersebut ditulis oleh dua wartawan yang dihormati di Amerika Serikat, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel."Internet praktis menghancurkan peranan ruang redaksi sebagai penjaga gerbang informasi," kata Andreas dalam diskusi tersebut, Kamis (27/12/2012). "Namun teknologi internet tak mengubah makna tentang keperluan informasi yang bermutu agar masyarakat bisa mengambil keputusan substansial."Dia memaparkan dalam buku Blur, Kovach dan Rosenstiel, menyatakan terdapat sejumlah fungsi yang harus dijalankan oleh wartawan dalam melakukan pekerjaan jurnalistiknya. Pertama adalah authenticator, yakni konsumen memerlukan wartawan yang bisa memeriksa keautentikan suatu informasi;Kedua adalah sense maker yakni menerangkan apakah informasi itu masuk akal atau tidak; ketiga adalah investigator yakni wartawan harus terus mengawasi kekuasaan dan membongkar kejahatan; keempat adalah witness bearer yakni kejadian-kejadian tertentu harus diteliti dan dipantau kembali dan dapat bekerja sama dengan reporter warga;Kelima adalah empowerer yakni saling melakukan pemberdayaan antara wartawan dan warga untuk menghasilkan dialog yang terus-menerus pada keduanya; ketujuh adalah smart aggregator yakni wartawan cerdas harus berbagi sumber berita yang bisa diandalkan, laporan-laporan yang mencerahkan, bukan hanya karya wartawan itu sendiri;Ketujuh  adalah forum organizer yakni  organisasi berita, baik lama dan baru, dapat berfungsi sebagai alun-alun di mana warga bisa memantau suara dari semua pihak, tak hanya kelompok mereka sendiri; dan terakhir adalah role model, yakni tak hanya bagaimana karya dan bagaimana cara wartawan menghasilkan karya tersebut, namun juga tingkah laku wartawan masuk dalam ranah publik untuk dijadikan contoh.Leo Batubara, salah satu wartawan senior dan mantan pengurus Dewan Pers, mengatakan pada akhirnya 'pemenang pertandingan' dalam industri media adalah pihak yang taat terhadap kode etik, sepuluh elemen jurnalisme serta delapan fungsi wartawan seperti yang ditulis dalam buku Blur tersebut. Dia memaparkan di mana pun seorang wartawan bekerja, ketiga hal tersebut menjadi sangat penting untuk ditaati.  Endy Bayuni, salah seorang wartawan senior lainnya, mengatakan hal yang seringkali dilupakan adalah melakukan cek dan ricek karena siaran berita yang lebih didahulukan. "Cek dan ricek diabaikan, yang penting tulis saja dulu, post saja dulu. Respon dari pihak lainnya mungkin akan datang dalam 1-2 jam kemudian."Diskusi itu dibuka oleh Ketua Dewan Pers Bagir Manan, dan menghadirkan pembicara lainnya yakni Petty S Fatimah, Pemimpin Redaksi Majalah Femina. Kegiatan itu tak hanya dihadiri oleh wartawan, namun juga praktisi di bidang hubungan masyarakat.(Bsi)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Puput Jumantirawan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top