Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

ASTRA Adopsi 2.000 Pohon di Gunung Gede Pangrango

BOGOR—PT Astra International Tbk (ASII) mengajak para penerima apresiasi SATU Indonesia Awards untuk berdiskusi mengenai program cinta lingkungan dan mengadopsi 1.000 bibit pohon.
Muhamad Sufyan
Muhamad Sufyan - Bisnis.com 22 Desember 2012  |  21:13 WIB

BOGOR—PT Astra International Tbk (ASII) mengajak para penerima apresiasi SATU Indonesia Awards untuk berdiskusi mengenai program cinta lingkungan dan mengadopsi 1.000 bibit pohon.

Acara itu digelar di Camping Ground Sarongge Taman Nasional Gunung Gede Pangrango pada tanggal 21-22 Desember 2012. Sejak tahun lalu, sudah 2.000 bibit pohon yang diadopsi di kawasan ini.

Dalam rilis resmi perseroan yang dilansir hari ini, Sabtu (22/12/2012), disebutkan bahwa yang istimewa dari kegiatan adopsi pohon ini, setiap adopter akan mendapatkan sertifikat resmi dari Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan diakui oleh Kementerian Kehutanan Republik Indonesia.

Setiap pohon atau blok pohon yang ditanam akan diberikan koordinat sehingga memungkinkan adopter untuk melihat perkembangannya melalui GoogleMaps, mendapat laporan rutin tentang perkembangan pohon dan pembangunan ekonomi masyarakat Sarongge, serta berkesempatan untuk bertemu langsung dengan petani yang merawat tanaman.

Tiga orang penerima apresiasi Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia (SATU Indonesia) Awards yang ikut serta dalam acara ini memiliki latar belakang yang berbeda.

Hayu Dyah Patria, seorang ahli teknologi pangan menjadi pemberdaya gizi dari tanaman liar di Desa Galengdowo, Wonosalam, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. “Saya ingin melestarikan tanaman liar, sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan memerangi kekurangan gizi dengan cara yang masuk akal,” katanya.

Tahun 2009 ia mendirikan Lembaga Swadaya Masyarakat bernama Mantasa yang melakukan penelitian terhadap tanaman liar dan mengajak masyarakat untuk memanfaatkan tanaman liar sebagai bahan makanan.

Di Gunung Lemongan, Jawa Timur, A’ak Abdullah Al-Kudus mengumpulkan puluhan anak muda di daerahnya yang diberi nama Laskar Hijau Lumajang untuk menanam pohon dan merawat lingkungan. Setelah empat tahun, kurang lebih 400 hektar hutan dari 6.000 hektar lahan kritis di Gunung Lemongan telah hijau, dan Ranu Klakah, danau terpenting di kawasan tersebut pun kembali dipenuhi air.

Eko Cahyono yang berasal dari kota Malang menjadi pembebas buta huruf untuk masyarakat di sekitarnya. Setelah di PHK dari pabrik tekstil tempatnya bekerja di tahun 1998 lalu karena krisis moneter yang melanda negeri, Eko melihat banyak anak-anak di tempat tinggalnya yang putus sekolah.

Dia pun memutuskan menggunakan uang tabungan yang dimiliki untuk mendirikan Pustaka Anak Bangsa. Saat ini anggota perpustakaannya mencapai 8.000 orang dengan latar belakang yang berbeda, ada yang berstatus pelajar, ibu rumah tangga, tukang bakso, tukang ojek, hingga kuli bangunan.

Ketiga penerima apresiasi SATU Indonesia Awards ini memiliki kepedulian yang sangat tinggi terhadap lingkungan. Eko mengungkapkan kelestarian lingkungan adalah tanggung jawab kita semua. Tidak perlu tindakan besar untuk melakukannya, cukup dengan kepedulian sederhana.

"Di Pustaka Anak Bangsa kepedulian terhadap lingkungan ditunjukkan dengan pembuatan TOGA atau kebun masyarakat. Setiap anak diwajibkan untuk menanam, merawat dan bertanggung jawab pada satu jenis tanaman. Hal ini bertujuan untuk menanamkan rasa tanggung jawab sejak kecil,” kata Eko.

Sementara itu Hayu Dyah mengibaratkan tanah sebagai sosok ibu dan tanaman adalah teman sekaligus guru yang mengajarkan begitu banyak keindahan, kebajikan dan pengetahuan pada manusia.

“Oleh karena itu, setiap tanaman berhak hidup. Maka sayangi dan rawatlah dengan penuh penghargaan,” pesannya.

Sementara itu A’ak Abdullah mengabdikan dirinya untuk lingkungan karena kecintaannya terhadap kehidupan. “Kita butuh pohon untuk bernafas, begitu juga dengan anak dan cucu kita yang membutuhkan lingkungan yang lestari untuk melanjutkan kehidupan. Karena manusia dan alam merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan,” ujarnya. (sut)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Sutarno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top