Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

HARI IBU : Jangan Hanya Seremonial, Pendidikan Ibu Lebih Penting

JAKARTA—Peringatan hari Ibu  hari ini, Sabtu  (22/12/2012), tidak hanya penting untuk dijadikan seremonial belaka. Pentingnya kesadaran bahwa pendidikan bagi seorang ibu dapat membawa masa depan negara menjadi lebih baik.
Muhamad Sufyan
Muhamad Sufyan - Bisnis.com 22 Desember 2012  |  18:34 WIB

JAKARTA—Peringatan hari Ibu  hari ini, Sabtu  (22/12/2012), tidak hanya penting untuk dijadikan seremonial belaka. Pentingnya kesadaran bahwa pendidikan bagi seorang ibu dapat membawa masa depan negara menjadi lebih baik.

Ketua Umum Badan Promosi Pariwisata Indonesia (BPPI) Wiryanti Sukamdani mengatakan sangat penting untuk mengembalikan peringatan hari ibu kepada tujuan awalnya. Presiden Soekarno menginginkan perempuan untuk melek politik dan pendidikan.

"Hari ibu cuma pakai kebaya, diam, seremonial saja, tidak cukup seperti itu. Tugas perempuan itu luar biasa, harus dikembalikan menjadi semangat," ujarnya kepada Bisnis hari ini, Sabtu (22/12/2012).

Perempuan harus tahu antara kodrat, hak dan kewajibannya. Dimulai dari kelompok terkecil dalam sebuah keluarga. Tidak mungkin tidak ada seorang perempuan di dalamnya.

Tidak sedikit ibu-ibu yang tidak berpendidikan, tidak gigih dan tidak tahu terhadap politik. Seorang ibu harus bisa mendidik anak dengan baik. Sehingga seorang ibu juga harus terdidik.

Di dalam rumah tangga, seorang perempuan juga harus mengerti terhadap politik. Dia tidak hanya mengeluh akibat kenaikan harga sembako. Namun, dia harus bisa memprotes kenaikan harga itu.

"Dia harus bisa memperjuangkan, jangan lagi ada impor beras, ada impor daging, impor kedelai. Itu sebuah sikap politik," ungkap Yanti yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) ini.

Kendala budaya

Pekerjaan Rumah bangsa Indonesia masih banyak. Sebab, tidak sedikit ibu-ibu di Tanah Air yang masih jauh tertinggal. Hambatannya terutama dikarenakan faktor budaya.

Dia mencontohkan, di dalam budaya masyarakat Jawa seorang perempuan hanya menjadi "tiang wingking". Perempuan hanya bertugas untuk mengurus anak, memasak di dapur dan tidak memiliki peran di luar rumah.

Perempuan belum tentu memperoleh ijin dari sang suami untuk berkarir di luar rumah. Hal itulah yang harus diluruskan dan dibenahi.

Di Indonesia sudah banyak contoh perempuan yang berkarir di banyak bidang. Di bidang politik dan pemerintahan sudah ada Megawati Soekarnoputri yang menjadi Presiden RI ke-5. Di dunia bisnis, sudah banyak sekali perempuan-perempuan yang berpengaruh.

Menurutnya, peringatan hari ibu ke-84 tahun ini penting untuk diperingati. Presiden Soekarno karena telah menetapkan melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga saat ini.

Presiden Soekarno sendiri sejak awal menyebut Kongres Perempuan pada 22 Desember adalah Kongres Ibu.

Pada 22 Desember 1928 atau dua bulan sesudah Sumpah Pemuda, organisasi-organisasi perempuan mengadakan kongres pertamanya di Yogyakarta dan membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

Yanti Sukamdani menjadi salah satu dari 99 wanita paling berpengaruh di Indonesia versi majalah Globe Asia. Tak hanya di bidang bisnis, Yanti juga aktif di bidang politik dengan menjadi Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Anak DPP PDI Perjuangan. (sut)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Sutarno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top