Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BEI: Redenominasi Untungkan Pasar Modal

Annisa Margrit
Annisa Margrit - Bisnis.com 20 Desember 2012  |  15:06 WIB
JAKARTA - Pemerintah berencana melakukan pengurangan nominal mata uang rupiah sebanyak tiga digit atau redenominasi. Undang-Undang Redenominasi Mata Uang diharapkan rampung pada 2013 agar mulai 2014 Bank Indonesia bisa mulai mengedarkan uang kertas baru.
 
Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito mengatakan rencana redenominasi itu tidak akan mengganggu transaksi di pasar modal. 
 
"Tidak ada masalah, justru industri pasar modal diuntungkan dari redenominasi karena jumlah digit berkurang," ujarnya kepada Bisnis, hari ini (20/12).
 
Menurutnya, kebijkan redenominasi itu tidak akan mengganggu saham-saham dengan harga batas bawah Rp50 per saham. Nantinya, saham-saham level tersebut akan berubah menjadi Rp5 sen dengan nominal uang baru.
 
BEI tidak akan mengubah atau menaikkan batas bawah harga saham. BEI juga tidak akan membatasi harga saham mengikuti nilai mata uang yang baru. Sebab, redenominasi hanya berkaibat penggunaan kembali satuan mata uang sen yang sudah lama tidak digunakan.
 
Keuntungan akibat redenominasi ini, lanjutnya, terutama pada efisiensi pencatatan laporan keuangan. Di Industri keuangan, setiap hari terdapat miliaran transaksi baik di lembaga keuangan bank maupun non bank yang diolah menggunakan komputerisasi.
 
Baginya, dengan berkurangnya nominal mata uang sebanyak tiga digit akan terjadi penghematan besar-besaran dari sisi ukuran berkas di komputer.
 
Secara nasional, akan terjadi penghematan dalam pemakaian data storage sehingga tercipta efisiensi dari sisi teknologi informasi.
 
Bagi perusahaan, redenominasi juga berdampak pada efisiensi pencatatan laporan keuangan. Bahkan, efisiensi juga akan terjadi pada semua penghitungan akuntansi di perusahaan.
 
Dia menjelaskan kecepatan komputer selalu ditentukan oleh jumlah data yang diolah. Semakin kecil data yang diolah akan semakin cepat proses yang dilakukan oleh komputer. Hal itulah salah satu keuntungan redenominasi yang selama ini diabaikan masyarakat.
 
Ito menegaskan kebijakan redenominasi itu tidak akan mengganggu transaksi di BEI. Sebab, selama ini di BEI juga mencatat nominal dua angka di belakang koma. Nilai itu digunakan untuk menunjukkan angka nominal sen.
 
"Kita tidak memakai sen karena nilai uang sudah sangat turun, mengabaikan sen, nanti ada redenominasi dari Rp1.000 menjadi Rp1, nilai sen akan hidup lagi," tegasnya.
 
Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia (BI) serta Badan Legislasi DPR telah menyepakati untuk menjadikan RUU Redenominasi Mata Uang sebagai prioritas utama. Dijadwalkan pembahasannya pada masa sidang ke-3 dan ke-4 atau Januari-Juni 2013.
 
Apabila pembahasan tersebut berjalan lancar pada paruh kedua 2013 pemerintah akan mengimbau penjual barang dan jasa untuk mulai menerapkan dua label harga atau dual price tag.
 
Selanjutnya, pada 2014, Bank Indonesia akan mulai menerbitkan uang dengan desain yang sama, namun menghilangkan tiga angka nol di belakang nominal uang. Meski uang redenominasi mulai berlaku pada 2014, Rupiah berdenominasi lama akan tetap berlaku.
 
Adapun uang kertas baru yang akan diterbitkan BI pada 2014, direncanakan berdominasi Rp100, Rp50, Rp20, Rp10, Rp5, Rp2. Sedangkan, uang logam akan dimulai dengan denominasi Rp1, Rp50 sen, Rp20 sen, dan Rp10 sen.
 
Proses transisi ini direncanakan berlangsung mulai 2014 hingga 2018. Dalam proses transisi tersebut, rupiah berdenominasi lama perlahan-lahan ditarik dari peredaran dan pada 2019 ditargetkan hilang dari peredaran dan digantikan dengan uang baru dengan gambar dan denominasi baru.
 
(faa)

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Dara Aziliya

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top