NOVIE AMELIA: Bra Melorot, Polisi Pun Menikmati

JAKARTA--Dalam beberapa foto tampak posisi pakaian dalam Novie tidak karuan alias melorot, dan seorang polisi dalam posisi sedang duduk tampak menikmati pemandangan tak pantas itu…Itulah gambran tragis nasib Novie Amelia. Perempuan berusia 25
Lukas Hendra TM
Lukas Hendra TM - Bisnis.com 17 Desember 2012  |  14:33 WIB

JAKARTA--Dalam beberapa foto tampak posisi pakaian dalam Novie tidak karuan alias melorot, dan seorang polisi dalam posisi sedang duduk tampak menikmati pemandangan tak pantas itu…Itulah gambran tragis nasib Novie Amelia. Perempuan berusia 25 tahun ini mengalami perlakuan tidak manusiawi di kantor polisi. Padahal tanpa hal itu pun, nasib Novie sesungguhnya sudah cukup apes.Dia adalah pengendara mobil  Honda Jazz yang menabrak tujuh pejalan kaki di Kawasan Hayam Wuruk, Tamansari, Jakarta,  pada Kamis (11/10) lalu.  Kasusnya sudah berjalan 1 minggu, tapi tetap saja menarik perhatian publik.Tabrakan, yang ‘untungnya’ tidak menelan korban jiwa itu, berlangsung dalam kondisi Novie setengah sadar. Kemudian terungkap bahwa dia seringkali mendengar suara gaib—yang katanya mirip suara almarhum ayahnya—menyuruh melakukan hal-hal tertentu.Beberapa peristiwa yang terungkap kemudian menimbulkan dugaan bahwa Novie, seorang model majalah dewasa dan berasal dari keluarga yang tak utuh,  menderita gangguan jiwa.Setelah tabrakan, malam itu juga Novie dibawa ke kantor Polsek Taman Sari dan di sinilah terjadi perlakuan tidak manusiawi terhadap dirinya.Dalam kondisi tangan diborgol—dan setengah sadar—dengan hanya berpakaian dalam, ada yang mengambil gambarnya. Foto-foto itu lalu menyebarluas di Internet.Dalam beberapa foto tampak posisi pakaian dalam Novie tidak karuan alias melorot, dan seorang polisi dalam posisi sedang duduk tampak menikmati pemandangan tak pantas itu…Novie yang dalam kondisi fly, lemah, sendirian tanpa ditemani oleh satu pun anggota keluarganya, seolah sedang berada di kandang binatang buas!Menanggapi kasus foto Novie tersebut, Komnas Perempuan menyatakan sangat prihatin. “Pengambilan dan penyebarluasan foto tersebut adalah tindak pidana, dan perempuan di dalam foto telah menjadi korban tindak kekerasan eksploitasi seksual.” Komnas Perempuan, dalam siaran persnya, mendesak pihak kepolisian untuk segera menyelidiki siapa pelaku pengambilan dan penyebarluasan foto tersebut. Pelaku harus ditindak tegas sesuai dengan aturan yang berlaku, termasuk Undang-Undang tentang Informasi dan transaksi elektronik.“Bila terbukti aparat terlibat, maka tindak tersebut dapat dikategorisasikan sebagai tindak penyiksaan dan karenanya harus dihukum lebih berat.” Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Kombes Pol Agus Rianto mengatakan Pada saat kejadian, semua bercampur baur. Ada masyarakat, ada polisi, ada media, berada dalam posisi yang sama ingin melihat pelakunya. “Polda Metro sedang mencari pelakunya, siapa yang memotret dan menyebarkannya. Kita lagi cari dulu.”Alasan di atas cukup mengada-ada, karena begitu Novie berada di tangan polisi, artinya Kepolisian bertanggungjawab atas kondisinya dan situasi di sekitarnya. Polisi berhak mengusir orang-orang yang tidak berkepentingan untuk menjauh atau meninggalkan ruangan pemeriksaan. Polisi juga berkewajiban menempatkan Novie di ruangan yang aman dari gangguan dalam bentuk apapun.Pertanyaan selanjutnya, masak polisi yang sedang duduk menonton Novie hampir bugil itu tidak melihat ada orang mengambil gambar?  Masak polisi tidak tahu bahwa hal itu terlarang?Apakah polisi itu atau pelaku pengambil gambar sudah mati rasa? Bagaimana seumpamanya Novie itu adalah istri atau anak perempuan mereka? Sudikah mereka menerima perlakuan seperti itu?Komnas Perempuan mengimbau masyarakat untuk tidak turut menyebarluaskan foto yang beredar, menginformasikannya kepada institusi berwenang dan turut melakukan perlindungan pada perempuan korban.Baik dalam kasus pemotretan Novie maupun sikap seorang pejabat atas siswi Depok korban pemerkosaan, terlihat jelas bahwa walaupun sudah banyak kemajuan terkait posisi perempuan di mata masyarakat, pandangan merendahkan itu masih ada.Menyangkut  kasus pemerkosaan terhadap SA, 14, siswi sebuah sekolah menengah pertama di Depok,  Jawa Barat, Menteri Nuh mengatakan bahwa kemungkinan SA adalah siswi nakal dan hanya mengaku diperkosa. Bahwa sulit membuktikan apakah benar SA adalah korban pemerkosaan.Namun tak urung, reaksi keras bermunculan. “Pernyataan Mendikbud melukai perasaan korban, orang tua dan seluruh masyarakat Indonesia. Mendikbud harus minta maaf pada seluruh korban pemerkosaan yang ribuan di Indonesia dan belum semua mampu dipulihkan oleh pemerintah,” ujar Ketua Satgas Perlindungan Anak, Ihsan, seperti dikutip sejumlah media.Dalam Undang-Undang Perlindungan anak disebutkan bahwa orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah dan negara bertanggungjawab karena tak mampu menjalankan tugas dan tanggung jawabnya menyelenggarakan perlindungan anak.Menteri Muh telah meminta maaf dan semoga ini menjadi pelajaran bagi dia untuk hati-hati mengeluarkan komentar, apalagi terhadap korban pemerkosaan. Sedangkan pelaku pengambilan gambar telanjang Novie, dan pelaku penyebarnya, perlu diproses secara hukum.  Polisi atau bukan, pelaku harus mendapatkan hukuman setimpal atas perbuatan biadabnya itu. (Kabar24/LN)  

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Annisa Sulistyo Rini

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top