Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

YOUTUBE Minta Kasus Hak Cipta Viacom Dihentikan

NEW YORK—YouTube meminta hakim untuk mengabaikan klaim Viacom Inc bahwa unit usaha Google Inc itu melanggar hak cipta dengan menampilkan video klip dari program televisi dan film tanpa izin perusahaan media.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 10 Desember 2012  |  05:26 WIB

NEW YORK—YouTube meminta hakim untuk mengabaikan klaim Viacom Inc bahwa unit usaha Google Inc itu melanggar hak cipta dengan menampilkan video klip dari program televisi dan film tanpa izin perusahaan media.

Hal itu disampaikan YouTube setelah pengadilan banding membatalkan putusan yang memenangkannya. YouTube mengatakan Viacom harus memberikan bukti bahwa situs berbagi video itu mengetahui materi yang ditampilkan itu melanggar hukum.

"Untuk saat ini, Viacom tidak menyodorkan adanya bukti semacam itu," kata YouTube dalam berkas setebal 1.373 halaman yang berisi daftar klip. Dokumen tersebut mengacu pada video YouTube yang disegel dan tidak tersedia untuk dilihat publik.

Viacom menuntut ganti rugi US$1 miliar ketika menggugat pada 2007, mengklaim bahwa pengguna YouTube meng-upload secara ilegal ribuan program televisi, termasuk "South Park" dan "The Colbert Report," dan film dari perusahaan Paramount Pictures.

Jeremy Zweig, juru bicara Viacom yang berbasis di New York, menolak mengomentari berkas yang diajukan ke pengadilan itu.

Dalam berkas yang diajukannya YouTube berpendapat Viacom harus membuktikan bahwa karyawan YouTube benar-benar melihat klip atau diperingatkan terhadap kehadiran tayangan yang melanggar di situs sebelum Viacom menuntut agar video itu diturunkan.

Hakim Distrik AS Louis Stanton menutup kasus pada 2010, memutuskan bahwa YouTube telah terlindung dari kewajiban oleh hukum Digital Millennium Copyright Act karena menghapus video ketika diberitahu oleh Viacom atau pemilik hak lainnya. 

Atas putusan tersebut Viacom mengajukan banding dengan mengatakan bahwa YouTube sadar akan pelanggaran hak cipta ketika menampilkan video. Pengadilan Banding AS di Manhattan pada April menolak putusan Stanton dan mengembalikan kasus ini.

"Juri yang wajar bisa menemukan bahwa YouTube memiliki pengetahuan aktual atau kesadaran atas kegiatan melanggar [aturan] tertentu di situsnya," kata dua anggota majelis hakim banding seperti dikutip Bloomberg.

Dalam dokumen pengadilan Viacom berpendapat YouTube menggunakan materi berhak cipta yang tidak sah untuk menarik pengunjung ke situs web-nya dan membuatnya lebih menarik bagi pembeli potensial.

Situs itu menerima keuntungan secara finansial dari pelanggaran dengan mendapatkan pendapatan dari iklan yang ditempatkan di samping video. (M. Taufikul Basari/sut) 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Bloomberg /Taufikul Basari

Editor : Sutarno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top