Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

TERNAK SAPI JABAR Keluhkan Embargo Sapi Jatim

BANDUNG: Peternak sapi di Jabar mengeluhkan adanya peraturan Dinas Peternakan Jawa Timur yang membatasi beberapa jenis sapi ternak keluar dari provinsi tersebut.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 19 November 2012  |  01:44 WIB

BANDUNG: Peternak sapi di Jabar mengeluhkan adanya peraturan Dinas Peternakan Jawa Timur yang membatasi beberapa jenis sapi ternak keluar dari provinsi tersebut.

Sekretaris Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PSKI) Jabar Robby Agustiar mengatakan pihaknya mendapatkan laporan bahwa sapi persilangan (limosin dan simental) dibatasi oleh Disnak Jatim dengan berat tidak lebih dari 400 kg. Sementara sapi madura tidak boleh keluar jika beratnya kurang dari 250 kilogram.“Yang lebih memberatkan lagi, sapi PO [peranakan ongole] ini justru tidak boleh keluar sama sekali. Padahal Jawa Timur sebagai lumbung sapi terbesar di Indonesia. Kalau Jatim memberlakukan peraturan seperti itu, ini ada apa?” ujarnya kepada Bisnis, Minggu (18/11/2012).Dia menjelaskan dalam peraturan tersebut juga menyatakan sapi ternak yang keluar Jatim harus melalui rekomendasi Dinas Peternakan jatim melalui jalur pintu satu atap. Hal tersebut bakal memberatkan para peternak sapi di Jabar.Menurut dia, jika peraturan itu terus berlaku, peternak sapi bakalan di Jabar bakal kesulitan dengan suplai yang terbatas dan secara otomatis harga daging sapi tinggi.“Perternak sapi di Jabar rata-rata membutuhkan sapi bakalan, sementara suplai terbesar lebih 60% dipasok dari Jatim. Karena Jatim melakukan pembatasan suplai sapi bakalan maka yang mau beternak bakal berkurang,” tuturnya. 

Ketergantungan tinggi

Kepala Dinas Peternakan Jabar Koesmayadi Tatang Padmadinata mengatakan selama ini ketergantungan Jabar pada sapi dari Jatim sangat tinggi. "Dari kebutuhan 186.000 per tahun,40-50% dipasok dari Jatim," ungkapnya.Dia menilai kebijakan yang diterapkan Jatim akan kontraproduktif, karena merugikan peternak provinsi itu sendiri. "Pasar sapi Jatim bisa direbut Yogya dan Jawa Tengah. Jabar sendiri memasok sisa kebutuhan sapi dari Yogyakarta sebanyak 10% dan Jawa Tengah 30%."Berdasarkan pemantauan,harga daging sapi di beberapa daerah di Jabar masih berkisar antara Rp80.000-Rp90.000. "Harganya masih di bawah Jakarta. Saya lihat stoknya juga masih banyak," katanya. Koesmayadi berjanji segera memeriksa berbagai cek poin sapi untuk mengetahui jumlah sapi yang masuk dari Jatim seminggu terakhir ini. Dia berharap kenaikan harga daging sapi di Jakarta tidak berimbas ke Jabar. Sebelumnya, Asosiasi Pengusaha Daging dan Sapi Potong Indonesia (Apdasi) Jawa Barat untuk mengatasi persoalan ini meminta pemerintah pusat memberikankelonggaran terhadap Jabar dan DKI Jakarta dalam hal kuota impor sapi.Ketua Apdasi Jabar Dadang Iskandar mengatakan kelonggaran untuk melakukan impor sapi asal Australia tersebut dilakukan karena Jabar selama bertahun-tahun telah menjadi penopang utama kebutuhan daging sapi di ibukota."Makanya, wajar kalau pedagang daging di Jakarta hari ini [minggu,18/11) mogok, karena pasokan minim ditambah harga tinggi. Pemerintah harus jeli dalam membaca situasi seperti ini," katanya.Menurutnya, kepentingan Jabar mengenai impor sapi tersebut bukan dalam bentuk daging, dengan tujuan agar bisa melakukan pembibitan guna memperbanyak populasi sapi di Jabar yang pada giliran berikutnya bisa menjadi pemasok bagi daerah ibukota.Selama ini populasi sapi di Jabar tidak pernah potong kecuali untuk kepentingan Iduladha. Sedangkan untuk konsumsi sehari-hari mereka mengandalkan pasokan dari Jawa Tengah dan Timur yang masih surplus.(JIBI k5/k5/k57/sut)  

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Miftahul Khoer / Hedi Ardhia / Wisnu Wage

Editor : Sutarno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top