ASEAN TIMUR: Pemda jadi tulang punggung kerja sama sub kawasan

 Cakupan wilayah BIMP-EAGANegaraCakupanBrunei100%Indonesia16%, 14 provinsiMalaysia21%, 3 negara bagianFilipina25%, 27 provinsiSumber: BEBC, diolah 
News Editor
News Editor - Bisnis.com 12 April 2012  |  16:02 WIB

 

Cakupan wilayah BIMP-EAGA
NegaraCakupan
Brunei100%
Indonesia16%, 14 provinsi
Malaysia21%, 3 negara bagian
Filipina25%, 27 provinsi
Sumber: BEBC, diolah

 

PONTIANAK: Keterlibatan pemerintah daerah di masing-masing wilayah dipandang penting bagi kesuksesan kerja sama BIMP-EAGA (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Filipina-East Asean Growth Area).

 

BIMP-EAGA merupakan wilayah Asean yang tersebar di empat negara dan mencakup populasi sekitar 65 juta orang. Wilayah ini saling berbatasan atau berdekatan. Wilayah Indonesia yang masuk dalam sub-kawasan ini di antaranya Kalimantan, Sulawesi, Maluku, serta Papua.

 

Mahmud Moh Daud dari BIMP-Business Council mengingatkan bahwa sub-kawasan ini memiliki potensi besar namun punya perbedaan pendapatan yang signifikan.

 

Dia memberikan contoh GDP Brunei yang lebih dari 10 kali lipat dibandingkan GDP Indonesia dan hampir 15 kali lipat dari GDP Filipina. Selain itu, kerja sama sub-kawasan ini juga tidak mencakup ibu kota dari tiga negara.

 

Dalam sub-kawasan ini memang hanya Brunei yang wilayahnya tercakup semua. Di Indonesia hanya 14 provinsi yang masuk, Malaysia hanya 3 negara bagian, dan Filipina hanya 27 provinsi.

 

Dia mengingatkan bahwa pembicaraan dan komitmen kerja sama umumnya dilakukan oleh pejabat dari pemerintahan pusat masing-masing negara. Padahal seharusnya pemerintah daerah dan para pebisnis daerahlah yang lebih banyak terlibat.

 

Dia juga mengungkapkan kurangnya inisiatif di sub-kawasan ini sehingga tertinggal dibandingkan dengan sub kawasan yang mencakup Vietnam. Sebagai contoh, pembicaraan yang terkait kerja sama Asean dengan China banyak dilakukan oleh Vietnam, sementara BIMP-EAGA justru tertinggal.

 

Mahmud menekankan perlunya mengajak pemerintah daerah atau lokal untuk terlibat dalam kerja sama BIMP-EAGA, termasuk menggunakan pendekatan khas.

 

"Mereka perlu diajak lebih terlibat, namun ini memang masalah yang cukup sensitif," ujarnya dalam pertemuan BIMP-EAGA SME Cluster Meeting ke-12 di Pontianak hari ini.

 

Kurangnya keterlibatan pemerintah daerah di masing-masing wilayah ini juga diakui oleh para delegasi. (sut)

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Setyardi Widodo

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top