INVESTASI PROPERTI: Asing belum lirik Indonesia

 
Anggriawan Sugianto
Anggriawan Sugianto - Bisnis.com 04 April 2012  |  16:29 WIB

 

 

JAKARTA: Orang super kaya dari berbagai penjuru dunia belum memandang Indonesia sebagai sasaran investasi di bidang properti.

 

Dalam The Wealth Report 2012 yang dirilis Knight Frank Indonesia tidak mampu bersaing dengan Hong Kong, China, maupun Singapura sebagai lokasi rumah kedua bagi orang super kaya di AsiaPasifik dengan aset minimal US$100 juta yang menjadi subyek riset tersebut.

 

Hasan Pamudji,  Senior Research Manager Lembaga Konsultan Properti Knight Frank Indonesia, mengatakan hal ini disebabkan pembatasan kepemilikan properti bagi warga asing, walaupun rerata harga tanah di Indonesia lebih murah dibandingkan dengan Singapura maupun Malaysia.

 

“Sebenarnya dengan harga properti yang relatif lebih murah, Indonesia potensial untuk menarik investor global, sebab peluang kenaikan harganya juga lebih besar,” katanya saat dihubungi Bisnis, Rabu, 4 Maret 2012.

 

Dalam laporan yang sama, rerata harga properti di dua daerah di Indonesia per kuartal IV/2011, yakni Jakarta dan Bali, berada di urutan ke-60 dan 61, jauh di belakang Singapura yang berada di urutan ke-13 atau Bangkok yang meraih urutan ke 51.

 

Hasan memprediksi, tiap tahunnya, rerata harga properti tersebut naik sekitar 5%-10%, dengan catatan kondisi ekonomi dan politik masih relatif sama seperti saat ini.

 

Dia menambahkan, walaupun terkendala pembatasan kepemilikan properti, sebenarnya pihak asing masih bisa mendapatkan hak guna bangunan di Indonesia yang berarti sama seperti hak milik atau freehold, selama menjalin kerjasama atau joint venture dengan pihak lokal.

 

“Dengan demikian, pada umumnya pihak asing masih memiliki 30% properti di Indonesia, sisanya, yakni 70% merupakan milik lokal,” terang Hasan.

 

Sementara itu, Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda menambahkan salah satu faktor penyebab enggannya investor global untuk terjun di pasar properti Indonesia adalah tidak jelasnya regulasi yang ada.

 

Menurut Ali, sebenarnya potensi pertumbuhan properti Indonesia untuk investasi masih cukup bagus, namun tidak merata. Kota-kota besar seperti Jabodetabek masih mendominasi, terutama untuk jenis rumah tapak.(msb)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Bunga Citra Arum Nursyifani

Editor : Novita Sari Simamora

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top