Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pembangunan terminal LNG di Bali berpotensi molor

 
Matroji
Matroji - Bisnis.com 24 November 2011  |  19:58 WIB

 

SINGARAJA: Rencana perusahaan PT Indonesia Power untuk bekerja sama dengan anak usaha PT Pertamina, Pertagas, membangun terminal liquefied natural gas (LNG) di Provinsi Bali berpotensi molor.
 
Penjanjian usaha patungan antara Pertagas dan Indonesia Power itu adalah untuk trasnportasi dan meregasifikasikan LNG. Kerjasama tersebut merupakan salah satu bagian dari nota kesepahaman proyek pengembangan sistem transportasi dan receiving terminal LNG di kawasan timur Indonesia.
 
Antonius RT Artono, General Manager UBP Bali Indonesia Power,  mengatakan saat ini pembentukan kerjasama membuat perusahaan baru pengelola terminal gas di provinsi Bali ini masih terganjal kepastian suplai gas dari induk PT Pertamina. 
 
"Saat ini proyek masih menyelesaikan feasibility study," katanya saat berkunjung ke PLTG Pemaron, Kota Singaraja, Provinsi Bali, hari ini.
 
Namun, lanjutya, hingga saat ini belum ada kesepakatan melalui kontrak kerja terkait suplai gas. Pertamina hanya memberikan potensi pasokan gas berasal dari Badak NGL di Bontang, Sengkang LNG di Keera Sulawesi Selatan, DSLNG, dan lapangan Tangguh di Papua. 
 
"Ditinjau dari sisi efisiensi dan letak, LNG Badak di Bontang paling memungkinkan," lanjut Antonius.
 
Pada perencanaan regasifikasi, perusahaan patungan yang belum ditentukan namanya itu mampu mengolah gas sebanyak 40 MMscfd. Berdasarkan penghitungan Indonesia Power, gas sebanyak itu akan menghasilkan 160 Megawatt. Untuk menjamin keamanan listrik di Bali,
Indonesia power membutuhkan gas itu selama tiga tahun pertama. 
 
"Indonesia Power menargetkan pembangunan infrastruktur dimulai maksimal pada semester I/2012."
 
Nantinya, sebagian gas yang dihasilkan akan digunakan untuk mengganti bahan bakar solar yang selama ini difungsikan membangkitkan listrik sebesar 106 MW di PLTG di Pesanggaran, Denpasar, Provinsi Bali.
 
Sisanya sebanyak 54 MW didistribsikan ke Kawasan Timur Indonesia. Dalam penggunaan gas, Indonesia power mampu menghemat pemakaian bahan bakar solar hingga 250 juta liter/tahun.
 
Tercatat, seluruh pembangkit listrik di Bali yang diperasikan Indonesia Power masih menggunakan bahan bakar solar. Seperti halnya, pembangkit listrik tenaga diesel di Pesanggaran, Denpasar sebesar total 55 MW, pembangkit listrik tenaga gas/PLTG di Pesanggaran sebesar 106 MW dan PLTG Gilimanuk 130 MW dan PLTG Pemaron 2x40 MW. 
 
"LTG Pemaron masih mengonsumsi 15.000 kiloliter solar/bulan," tutur Antonius.
 
Namun setelah pasokan listrik untuk Provinsi Bali dinyatakan aman dengan berdirinya Bali Crossing, penyediaan gas ini hanya untuk cadangan.  
 
Bali Crossing adalah menara listrik tertinggi di dunia seharga Rp500 miliar itu dibangun setinggi 376 meter. PLN membangun menara itu di Banyuwangi, Jawa Timur, dan Gilimanuk, Bali, untuk memasok listrik Jawa-Bali. (sut)
 

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Sutarno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top