Jatim dinyatakan dalam siaga satu

SURABAYA: Gubernur Jawa Timur Soekarwo menyatakan wilayahnya kini dalam kondisi siaga satu sebagai langkah antisipasi dan kewaspadaan dini menyusul terjadinya bom bunuh diri di Gereja Bethel Indonesia Sepenuh (GBIS), Kepunton, Solo pada Minggu.“Proses
News Editor
News Editor - Bisnis.com 26 September 2011  |  17:33 WIB

SURABAYA: Gubernur Jawa Timur Soekarwo menyatakan wilayahnya kini dalam kondisi siaga satu sebagai langkah antisipasi dan kewaspadaan dini menyusul terjadinya bom bunuh diri di Gereja Bethel Indonesia Sepenuh (GBIS), Kepunton, Solo pada Minggu.“Proses untuk menetapkan Jatim dalam kondisi siaga satu itu diambil dalam rapat khusus dengan melibatkan Fompida [Forum Pimpinan Daerah] Jatim yang diselengarakan Minggu Malam [25/9] di Mapolda Jatim,” kata Soekarwo di Gedung Negara Grahadi, hari ini.Dalam rapat Fompida itu, Gubernur Jatim Soekarwo berperan sebagai pemimpin rapat mengingat dirinya bertindak sebagai penanggung jawab ketentraman dan ketertiban Jatim. Rapat itu diikuti oleh  Kapolda Jatim Hadiatmoko, Pangdam V/Brawijaya Gatot Nurmantyo, dan Kepala Kejaksaan Tinggi Jatim.Soekarwo menegaskan penetapan kondisi siaga satu itu dilakukan guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan di wilayahnya setelah terjadinya bom bunuh diri di Solo.“Dengan cara itu [penetapan siaga satu], kita ingin memberikan jaminan ketentraman, rasa aman, dan suasana damai kepada masyarakat Jatim termasuk untuk memberikan ruang bagi aparat guna melakukan sejumlah langkah antispasi,” ungkapnya.Gubernur Jatim juga memberikan instruksi khusus bagi jajarannya khususnya bupati/walikota di 38 daerah di Jatim guna fokus untuk tetap menjaga dan menciptakan keamanan dan ketertiban di wilayahnya.“Intruksi itu dilakukan melalui fasilitas teleconference dengan Fompida di 38 kabupaten/kota yang berkumpul dimasing-masing Mapolres setempat. Langkah ini [teleconference] dilakukan agar segera mendapat penanganan di daerah,” ujarnya.Soekarwo menyatakan TNI juga diminta turun guna membantu petugas kepolisian di lapangan agar penanganannya bisa semakin komprehensif.

“Tak hanya itu saja, intel kejaksaan juga harus turun memonitor dan membina keberadaan aliran dan kelompok masyarakat yang ada di Jatim,” ujarnya.Dengan status Jatim siaga satu tersebut, kata Soekarwo, pihaknya meminta masyarakat dapat memahami jika ada aparat yang menghentikan laju kendaraan untuk melakukan pemeriksaan. “Itu semata-mata berjaga-jaga dan mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan,” tegasnya. (api) 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Yuristiarso Hidayat

Editor : Lingga Sukatma Wiangga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top