Antara pamerkan Foto Satu Abad ROC

JAKARTA: Kantor penerangan Taiwan dan Taipei Economic and Trade Office (TETO) bekerja sama dengan Galeri Foto Jurnalistik Antara menyelenggarakan pameran foto yang berjudul “Menghitung Jejak yang Dilalui — Pameran Foto Satu Abad ROC”
Inria Zulfikar
Inria Zulfikar - Bisnis.com 24 September 2011  |  23:26 WIB

JAKARTA: Kantor penerangan Taiwan dan Taipei Economic and Trade Office (TETO) bekerja sama dengan Galeri Foto Jurnalistik Antara menyelenggarakan pameran foto yang berjudul “Menghitung Jejak yang Dilalui — Pameran Foto Satu Abad ROC” tadi malam.

Pameran ini yang berlangsung  sampai 10 Oktober bertepatan dengan hari nasional Republik of China (ROC) ini untuk berbagi suka cita dengan para sahabat Indonesia dalam rangka HUT ke-100 tahun berdirinya Republic of China (ROC), serta demi membuat masyarakat Indonesia lebih memahami bagaimana ROC mewujudkan cita-cita Sun Yat-sen, dan seabad perjalanan pembangunan negara.

Acara pembukaan yang dilakukan oleh oleh Kepala TETO Andrew L.Y Hsia dan Presiden Direktur/CEO kantor berita Antara Ahmad Mukhlis.

Dalam pidatonya Hsia menyatakan, Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 saat berpidato tentang “Pancasila” selalu menyebut tiga prinsip rakyat (San Min Chu I) yang dikumandangkan oleh  Sun yat-sen yang kemudian menginspirasi gagasan  “Pancasila”.

Ini menunjukkan bahwa konsep pemikiran kedua Bapak negara tersebut mempunyai hubungan yang erat. Menjelang hari jadi 100 tahun ROC, acara “menghitung jejak yang dilalui — Pameran foto satu abad R.OC” yang dipamerkan di Galeri Antara ini diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada masyarakat Indonesia untuk mengetahui bagaimana ROC menerapkan ideologi  Sun Yat-sen serta perjalanan perkembangan ROC selama 100 tahun demi menciptakan hubungan yang lebih baik antara kedua negara di masa yang akan datang.

Ahmad Mukhis menyatakan, pameran foto sejarah yang berharga ini dapat meningkatkan rasa saling mengerti antar kedua negara. Dengan adanya rasa kepedulian kedua negara ini, akan lebih mempererat hubungan persahabatan kedua negara.

Pameran juga  diselingi oleh penampilan musik dari tiga pemusik wanita, yakni pemain oboe dari Taiwan Akris Hung dan pemain piano Miao-wei Chen, serta soprano dari Indonesia Ubiet. Ketiga musikus  menampilkan gabungan lagu-lagu klasik dan tradisional Taiwan-Indonesia untuk memeriahkan acara pameran foto 100 tahun ROC.

Mengilas balik sejarah, terjadinya beberapa kali perjuangan di tahun 1911, merupakan tonggak sejarah penting bagi China, dimana dari tatanan sosial feodal kerajaan,  menjadi sebuah republik pertama di Asia, yaitu ROC.

Menurut penanggalan bulan China, 1911 adalah tahun Xinhai, maka hari kemenangan revolusi tanggal 10 Oktober disebut juga sebagai Revolusi Xinhai, dan ROC setiap tahun memperingati hari nasionalnya sebagai Double Tenth Day.

Ketua Panitia Galeri Foto Jurnalistik Antara Oscar Motuloh menyatakan bahwa  kebebasan dan demokrasi bukanlah takdir yang jatuh dari langit,  itu harus diraih dengan berbagai pengorbanan. Seperti halnya ROC di Taiwan, Indonesia juga pernah mengalami masa perjuangan yang berat  dan pengorbanan untuk meraih kemerdekaan. (Bsi)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Puput Jumantirawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top