Jamsostek takkan lepas saham KS

JAKARTA: PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bakal mempertahankan investasinya dalam bentuk saham pada PT Krakatau Steel (KS) senilai Rp180 miliar, sebagai bentuk investasi jangka panjang.Direktur Investasi Jamsostek Elvyn G Massasya mengatakan
Mochammad Subarkah | 15 Desember 2010 10:55 WIB

JAKARTA: PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bakal mempertahankan investasinya dalam bentuk saham pada PT Krakatau Steel (KS) senilai Rp180 miliar, sebagai bentuk investasi jangka panjang.Direktur Investasi Jamsostek Elvyn G Massasya mengatakan dasar hukum pelaksanaan investasi tersebut mengacu pada PP No. 22/2004, atutan pasar modal yang diterbitkan Bapepam, serta amanah pemegang saham dalam RUPS.

Menurut dia, amanah pemegang saham dalam RUPS menugaskan Dirut Jamsostek melakukan investasi antara lain pada saham KS dari proses initial public offering (IPO) yang dilakukan beberapa waktu lalu. Selain itu, keputusan pembelian saham KS juga dipastikan telah melalui proses pengkajian baik oleh pihak ketiga independen maupun risk manajemen yang memberikan rekomendasi feasible dari pelaksanaan investasi tersebut. "Investasi Jamsostek pada saham KS mengacu pada pedoman pengelolaan investasi berdasarkan sejumlah dasar hukum yang ada," ujarnya menanggapi pertanyaan Komisi IX DPR tentang investasi Jamsostek, dalam rapat dengar pendapat (RDP), hari ini. Dalam RDP tersebut, Elvyn menuturkan berdasarkan peraturan yang ada, Jamsostek sebagai BUMN diperbolehkan untuk membeli saham KS dan sejumlah perusahaan lain dengan tujuan untuk memberikan benefit tambahan kepada peserta. Dia menambahkan berdasarkan peraturan yang ada, total investasi yang diperbolehkan pada instrumen saham adalah 50% dari total investasi yang dilakukan Jamsostek. Total investasi yang telah dilakukan Jamsostek per 31 Oktober mencapai Rp96,7 triliun, lebih tinggi dari Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP)sebesar Rp88,47 triliun. Selain itu, nilai saham KS yang dibeli Jamsostek sebesar Rp180 miliar tercatat jauh di bawah ketentuan yang berlaku, serta lebih kecil dari rencana semula mencapai Rp290 miliar, atau sebesar 10% dari saham yang beredar di pasar. "Sampai sekarang kami juga tidak menjual saham yang telah dibeli, meski sudah ada keuntungan yang diperoleh dari selisih pembelian Rp850/saham sekarang harga di pasar sudah Rp1.350/saham. Kami tidak menjual karena merupakan investasi jangka panjang, dengan membidik deviden dari hasil kinerja perusahaan," jelasnya. (04)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top