Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Prabowo Subianto Siap Bertarung Lagi, "Old Soldiers Never Die"

Prabowo Subianto akan maju lagi sebagai capres di Pilpres 2024. Bagi Prabowo, pengabdian kepada negara tidak pernah dibatasi ruang dan waktu.
Surya Dua Artha Simanjuntak
Surya Dua Artha Simanjuntak - Bisnis.com 14 Agustus 2022  |  20:23 WIB
Prabowo Subianto Siap Bertarung Lagi, "Old Soldiers Never Die"
Prabowo Subianto - Reuters/Beawiharta
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA -- Prabowo Subianto maju lagi sebagai calon presiden (Capres) pada Pemilihan Presiden atau Pilpres 2024. Ini untuk ketiga kalinya, mantan Komandan Jenderal Pasukan Khusus (Kopassus) itu bertarung dalam kontestasi tersebut.

Jatuh bangun dalam dua kali Pilpres, tiga kali kalau dihitung sebagai calon wakil presiden atau cawapres, rupanya tidak membuat Prabowo kapok. 

Dia berpandangan bahwa pengabdian seorang warga negara tidak ada batasannya. Tidak dibatasi usia atau masa jabatan. Old Soldiers Never Die, kalau memakai istilah dari tokoh militer AS Jenderal Douglas MacArthur.

Prabowo sangat meyakini bahwa mandat sebagi capres adalah tugas suci yang harus dilaksanakan untuk memajukan bangsa dan negara. "Kalau memang saya dapat tugas, saya anggap tugas itu tugas yang suci," jelas Prabowo saat berada di KPU pekan lalu.

Memang, umur Prabowo terhitung  lebih senior jika dibandingkan dengan calon presiden (capres) potensial lainnya seperti Ganjar Pranowo atau Anies Baswedan. Hal ini pula yang membuat banyak pengamat pesimistis, Prabowo tidak akan mampu bersaing dengan calon-calon yang lebih muda.

Namun dari sisi dukungan politik, Prabowo lebih maju tiga langkah. Keberadaan PKB yang telah sepakat untuk berkoalisi, jelas menjadi salah satu modal cukup penting.

Sebab, dengan PKB saja, Gerindra telah melewati ambang batas calon presiden atau presidential threshold yang dipatok 20 persen. Itu artinya, secara matematis, Prabowo sudah berada di atas angin untuk maju sebagai capres pada Pilpres 2024 nanti.

Hal ini berbanding terbalik dengan partai lainnya, Partai NasDem, misalnya, yang telah bermanuver dengan tiga nama bakal calon presidennya, sampai sekarang belum juga mengumumkan koalisi.

PDIP, satu-satunya partai politik yang telah mengantongi syarat presidential threshold tanpa harus koalisi, juga masih bimbang antara mencalonkan Ganjar atau Puan Maharani, putri Megawati.

Kendati demikian, Prabowo juga tak jumawa. Dia tetap membuka kans untuk berkolaborasi dengan partai politik lainnya. Bagi Prabowo, kolaborasi akan semakin memudahkan untuk menyejahterakan rakyat.

Gerindra, menurutnya, sangat terbuka untuk membangun kerja sama politik dengan semua pihak. "Kita bisa bekerjasama dengan semua kekuatan. Semua partai kita di Indonesia ini adalah sahabat-sahabat kita, saudara-saudara kita, adalah anak-anak Indonesia."

Jangan Salah Pilih Wakil

Sementara itu, Direktur Eksekutif Voxpol Center Research & Consulting Pangi Syarwi Chaniago menyebut peluang Prabowo Subianto menang di Pemilu 2024 tergantung pada wakil yang dipilihnya.

Sebelumnya, Ketua Umum Partai Gerindra tersebut menyatakan siap kembali jadi calon presiden (capres) jika diamanatkan para kadernya. Dia menyebutkan presiden merupakan tugas suci.

"Peluang Prabowo [memang Pemilu 2024] memang sangat ditentukan dengan wakilnya. Nah wakil itu jadi penting dalam Pemilu karena itu lapangan datar, tidak ada incumbent," jelas Pangi kepada Bisnis, Kamis (11/8/2022).

Pangi mengakui bahwa elektabilitas Prabowo sudah tinggi sehingga akan jadi capres potensial untuk Pemilu 2024. Meski begitu, elektabilitas seorang diri tak akan boleh dijadikan patokan dalam pemilihan presiden.

Dia menjelaskan, peluang Prabowo untuk memenangkan pemilihan presiden pada 2024 akan jauh lebih besar jika punya calon wakil presiden (cawapres) yang dapat mendukung elektabilitasnya. Oleh sebab, lanjut Pangi, Prabowo tak boleh salah pilih cawapres.

Dia mengatakan capres dan cawapres itu harus saling mengisi. Contohnya, basis pemilih mereka harus berbeda sehingga bisa meningkatkan elektabilitas keduanya.

“Capres dan cawapres itu pertama kan harus saling mengisi, segmen pemilihnya juga harus beda, kemudian presentasi wilayah, kemudian aliran politiknya, nasional dan Islam misalnya,” pungkas Pangi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

prabowo subianto Pilpres 2024 pkb
Editor : Edi Suwiknyo
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top