Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda
Logo Saudi Aramco dipajang selama Pameran & Konferensi Perminyakan Internasional Abu Dhabi (ADIPEC) di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Selasa, (13/11 - 2018). Bloomberg / Christopher Pike.
Lihat Foto
Premium

'Zombie Unicorn' di Balik Tahta Apple yang Direbut Aramco

Di balik tergerusnya valuasi Apple sehingga tersalip oleh Aramco, perusahaan teknologi di Silicon Valley tengah menghadapi derasnya aksi jual sehingga memunculkan fenomena 'zombie unicorn'.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com
13 Mei 2022 | 18:40 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Lonjakan harga minyak yang didorong situasi geopolitik sukses membuat tahta perusahaan paling bernilai di dunia beralih dari Apple Inc. ke Saudi Aramco. Namun di balik itu, Apple dan segudang perusahaan teknologi lain di Silicon Valley tengah menghadapi derasnya aksi jual sehingga memunculkan fenomena 'zombie unicorn'.

Kapitalisasi pasar Saudi Aramco, Jumat (13/5/2022) berada di angka 9,10 triliun riyal atau sekitar US$2,42 triliun, melampaui Apple untuk pertama kalinya sejak 2020. Pada saat yang sama, saham Apple turun 2,69 persen menjadi US$142,56 per saham dengan kapitalisasi pasar US$2,31 triliun.

Kemerosotan saham Apple telah menggerus sekitar US$700 miliar kapitalisasi pasarnya sejak awal tahun yang ketika itu mencapai US$3 triliun. Saat itu, masih ada selisih sekitar US$1 triliun dengan Aramco sebelum kapitalisasi pasar Apple terus merosot hingga 20 persen. Hal itu berbanding terbalik dengan Aramco yang diuntungkan oleh lonjakan harga minyak sehingga valuasinya terkerek sampai 28 persen.

Melansir Bloomberg, Kepala Investasi Tower Bridge Advisors James Meyer mengatakan dalam hal bisnis atau fundamentalnya, kedua raksasa itu tidak bisa dibandingkan. Namun, prospek bagi komoditas telah meningkat sehingga memungkinkan Aramco mendapat manfaat dari inflasi dan ketatnya pasokan dunia.

Tergerusnya saham dan kapitalisasi pasar Apple tak lepas dari lonjakan harga minyak yang telah memperburuk inflasi, sehingga menekan Federal Reserve untuk mengerek suku bunga acuan. Semakin tinggi suku bunga, semakin banyak pula investor yang mengurangi nilai arus pendapatan ke emiten perusahaan teknologi sehingga membuat harga saham bergolak.

Di sisi lain, prediksi penurunan pendapatan Apple pada kuartal ini sebesar US$4 miliar hingga US$8 miliar juga menggarisbawahi tekanan yang dihadapi perusahaan dalam hal kendala rantai pasok.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 5 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Atau Berlangganan Sekarang

Silakan pilih paket berlangganan yang anda inginkan untuk terus menikmati konten premium.

Berlangganan Sekarang
Berbagai metode pembayaran yang dapat Anda pilih:
  • visa
  • mastercard
  • amex
  • JCB
  • QRIS
  • gopay
  • bank transfer
  • ovo
  • dana
back to top To top