Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Gap Akses Vaksin Covid-19 Lebar, 40 Persen Dikuasai Negara Kaya

Sebanyak 5 persen populasi dunia telah mendapat suntikan vaksin Covid-19 lengkap, tetapi distribusinya tidak berimbang.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 09 April 2021  |  18:31 WIB
Vaksin Covid-19 AstraZeneca - Antara
Vaksin Covid-19 AstraZeneca - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Upaya negara-negara terhadap akses vaksin Covid-19 yang adil dan merata tampaknya masih jauh. Bloomberg mencatat 40 persen vaksinasi dikuasai oleh 27 negara kaya.

Hingga Kamis (8/4/2021), sebanyak 5 persen populasi dunia telah mendapat suntikan vaksin lengkap, tetapi distribusinya tidak berimbang.

27 negara kaya yang menguasai injeksi vaksin tersebut hanya mewakili 11 persen dari populasi dunia. Namun, negara-negara miskin hanya mendapatkan 1,6 persen vaksin Covid-19, menurut analisis data yang dikumpulkan oleh Bloomberg Vaccine Tracker.

Dengan kata lain, negara berpendapatan tinggi memvaksinasi 25 kali lebih cepat dibandingkan dengan negara berpendapatan rendah. Data Bloomberg tersebut telah merekam 726 juta dosis vaksin yang dilakukan di 154 negara.

Contohnya, tingkat vaksinasi AS telah mencapai 24 persen, tetapi jumlahnya hanya 4,3 persen dari total populasi. Sementara cakupan vaksin di Pakistan hanya 0,1 persen dari populasi yang jumlahnya sebesar 2,7 persen populasi global.

Pola ini terus terlihat di penjuru negara dan diikuti dengan upaya negara-negara kaya melakukan pra-pembelian miliaran dosis vaksin, cukup untuk memvaksinasi populasi mereka beberapa kali lipat.

Tidak ada mekanisme untuk memastikan distribusi vaksin yang adil di seluruh dunia. Jika semua vaksin di dunia didistribusikan berdasarkan populasi, AS akan melakukan vaksin hampir enam kali lebih banyak.

Inggris akan menghabiskan 7 kali jatah populasinya (melebihi pembagian ganda Uni Eropa). Urutan teratas adalah Uni Emirat Arab (UEA) dan Israel, dengan masing-masing sembilan dan 12 kali populasi mereka.

Begitu pula China yang telah memvaksinasi rakyatnya yang hampir sama dengan rata-rata global. China telah berkontribusi 20 persen terhadap vaksinasi di dunia atau terhadap 18 persen populasi global dengan vaksin buatannya.

China juga mengekspor vaksin buatannya ke negara-negara miskin, beberapa di antaranya gratis.

Sementara itu, negara-negara berpendapatan rendah di Afrika mencatatkan hanya tiga negara dari 54 negara di benua tersebut yang tingkat vaksinasinya di atas 1 persen populasinya. Lebih dari 20 negara bahkan belum mendapatkan jatah vaksin.

WHO mencatat lebih dari 100 negara telah menerima vaksin Covid-19 dari jalur COVAX Facility, sebuah mekanisme global untuk akses vaksin yang adil. Pencapaian tersebut terjadi 42 hari setelah dosis COVAX pertama dikirim ke Ghana pada 24 Februari 2021.

Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan COVAX kini telah mengirimkan lebih dari 38 juta dosis di enam benua yang dipasok oleh tiga produsen yakni AstraZeneca, Pfizer-BioNTech dan Serum Institute of India (SII).

Dari sekitar 100 negara yang dijangkau, 61 negara di antaranya termasuk negara berpenghasilan rendah. Mereka mendapatkan vaksin yang didanai melalui GAVI/COVAX Advance Market Commitment (AMC).

“Jika kita ingin merealisasikan peluang besar ini, negara, produsen, dan sistem internasional harus bersama-sama memprioritaskan pasokan vaksin melalui COVAX. Masa depan kolektif kita, secara harfiah, bergantung padanya,” kata Tedros dikutip dari keterangan resmi WHO.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

vaksinasi Vaksin Covid-19
Editor : Fitri Sartina Dewi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top