Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Hari Meteorologi Dunia ke-71, BMKG Ingatkan Konsentrasi CO2 Meningkat Pesat

Tahun 2020 sendiri menempati urutan kedua tahun terpanas dengan nilai anomali sebesar 0.7 °C, dengan tahun 2019 berada di peringkat ketiga dengan nilai anomali sebesar 0.6 °C.
Nancy Junita
Nancy Junita - Bisnis.com 25 Maret 2021  |  05:07 WIB
Kantor Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) di Kemayoran Jakarta Pusat. - bmkg
Kantor Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) di Kemayoran Jakarta Pusat. - bmkg

Bisnis.com, JAKARTA - Memperingati Hari Meteorologi Dunia (HMD) ke-71, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) makin menguatkan observasi dan analisis meteorologi, klimatologi dan oseanografi di perairan Indonesia, guna menghadapi berbagai tantangan akibat perubahan iklim.

"Semangat HMD tahun 2021 penting bagi BMKG dan Indonesia dalam rangka penguatan dan peningkatan observasi meteorologi dan iklim yang terintegrasi dengan observasi lautan/ samudra, yang saat ini ditindaklanjuti dengan modernisasi sistem dan peralatan observasi, analisis dan pemodelan meteorologi maritim dengan teknologi terkini," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati di Jakarta, Rabu (24/3/2021).

Hal tersebut sejalan dengan tema HMD tahun ini yaitu "Waspada Cuaca, Peduli Iklim, dan Selamatkan Laut". HMD diperingati setiap 23 Maret, bertepatan dengan terbentuknya Badan Meteorologi Dunia di bawah naungan PBB (World Meteorological Organization /WMO) pada tahun 1950.

Sementara, Deputi Klimatologi BMKG Herizal menjelaskan, bahwa tren kenaikan suhu udara di Indonesia terjadi di sebagian besar wilayah, dengan menggunakan data observasi BMKG (1981-2020) menunjukkan tren positif dengan besaran yang bervariasi dengan nilai sekitar 0.03 °C setiap tahunnya.

Dengan demikian, dalam 30 tahun estimasi kenaikan suhu udara akan bertambah sebesar 0.9 °C. Untuk wilayah Indonesia secara keseluruhan, tahun 2016 merupakan tahun terpanas dengan nilai anomali sebesar 0.8 °C sepanjang periode pengamatan 1981 hingga 2020.

Tahun 2020 sendiri menempati urutan kedua tahun terpanas dengan nilai anomali sebesar 0.7 °C, dengan tahun 2019 berada di peringkat ketiga dengan nilai anomali sebesar 0.6 °C.

Sebagai perbandingan, informasi suhu rata-rata global yang dirilis World Meteorological Organization (WMO) di laporan terakhirnya pada awal Desember 2020 juga menempatkan tahun 2016 sebagai tahun terpanas (peringkat pertama), dengan tahun 2020 sedang on-the-track menuju salah satu dari tiga tahun terpanas yang pernah dicatat.

Kenaikan suhu tersebut korelatif dengan peningkatan konsentrasi gas rumah kaca, terutama konsentrasi CO2.

Konsentrasi CO2

Monitoring yang dilakukan oleh BMKG di stasiun pengamatan Global Atmosphere Watch Bukit Kototabang menunjukkan, konsentrasi gas CO2 di Indonesia telah mencapai 411.1 ppm pada awal tahun 2021, meningkat signifikan dibandingkan dengan konsentrasi CO2 di tahun 2004 sebesar 372.1 ppm.

Peningkatan konsentrasi ini relatif masih di bawah rata-rata global, yaitu telah mencapai 415.0 ppm pada awal tahun 2021.

Dampak kombinasi antara anomali iklim global yang alamiah seperti La Nina dan El Nino dengan perubahan iklim global akan mengakibatkan hujan ekstrem yang lebih sering, lebih tinggi intensitasnya dan lebih lama durasinya pada saat musim hujan, ataupun kekeringan panjang pada saat musim kemarau, serta naiknya muka air laut.

Proyeksi Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menunjukkan, bahwa kenaikan permukaan laut dapat mencapai sekitar 30 cm hingga 60 cm pada tahun 2100, bahkan jika emisi gas rumah kaca berkurang tajam dan pemanasan global dibatasi hingga di bawah 2 derajat celcius sesuai Kesepakatan Paris. Namun, jika emisi gas rumah kaca terus berlanjut, kenaikannya akan berkisar antara 60 cm hingga 110 cm.

Lebih lanjut Guswanto, Deputi Meteorologi BMKG mengatakan, observasi dan riset maritim yang dilakukan BMKG antara lain melalui Ekspedisi Maritim Indonesia (untuk pengumpulan data cuaca dan iklim di Samudra Hindia bagian Barat Indonesia).

BMKG dan berbagai mitra nasional dan internasional juga rutin melakukan Ekspedisi "Years of The Maritime Continent (YMC)", untuk mengamati cuaca dan iklim dengan meningkatkan pemahaman dan prediksi variabilitas lokal hingga global, terutama utk menguak misteri di perairan Benua Maritim Indonesia yang mengontrol interaksi antara Samudra Pasifik dan Samudera Hindia.

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

BMKG
Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top