Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Iluni UI Dukung Pemerintah Batasi WNA, Dorong Tingkatkan Vaksinasi

Selain pembatasan pergerakan penduduk dalam dan luar negeri, Andre juga mendorong pemerintah untuk terus meningkatkan kesiapan vaksinasi Covid-19.
Aprianus Doni Tolok
Aprianus Doni Tolok - Bisnis.com 29 Januari 2021  |  16:37 WIB
Rektor Universitas Indonesia Muhammad Anis (kedua kiri), Ketua Iluni UI Arief Budhy Hardono (kanan), Sekjen Andre Rahadian (kiri), Dirut BEI Tito Sulistio (kedua kanan), Dirjen Kekayaan Intelektual Kemenkum HAM Freddy Harris (ketiga kanan), dan Dirut RS Pelni Fathema Djan Rachmat, berfoto bersama di sela-sela penyerahan Anugerah Apresiasi Karya Alumni UI, di Jakarta, Rabu (7/2/2018). - JIBI/Dwi Prasetya
Rektor Universitas Indonesia Muhammad Anis (kedua kiri), Ketua Iluni UI Arief Budhy Hardono (kanan), Sekjen Andre Rahadian (kiri), Dirut BEI Tito Sulistio (kedua kanan), Dirjen Kekayaan Intelektual Kemenkum HAM Freddy Harris (ketiga kanan), dan Dirut RS Pelni Fathema Djan Rachmat, berfoto bersama di sela-sela penyerahan Anugerah Apresiasi Karya Alumni UI, di Jakarta, Rabu (7/2/2018). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA - Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) Andre Rahadian mendukung langkah pemerintah yaitu membatasi WNA masuk ke Indonesia sebagai upaya mitigasi penyebaran virus Covid-19, termasuk strain baru yang telah terdeteksi di beberapa negara.

“Pemerintah sudah melakukan mitigasi dengan PSBB Jawa-Bali untuk mengurangi pergerakan penduduk dan sudah melakukan pelarangan WNA untuk datang ke indonesia kecuali memenuhi persyaratan. Semoga ini bisa mencegah masuknya mutasi virus COVID-19 yang disebut lebih berbahaya,” ungkapnya dalam sebuah diskusi daring, dikutip dari pernyataan resmi, Rabu (27/1/2021).

Selain pembatasan pergerakan penduduk dalam dan luar negeri, Andre juga mendorong pemerintah untuk terus meningkatkan kesiapan vaksinasi Covid-19.

Pasalnya, strain baru virus Covid-19 terus ditemukan sehingga harus dipastikan apakah vaksin yang dimiliki Indonesia juga mampu menghalau penularannya.

“Ada lima vaksin yang disetujui, yang sudah mulai dari Sinovac. Kita belum dapat informasi apakah vaksin ini bekerja untuk varian baru,” tuturnya.

Keberadaan strain baru juga dinilai sebagai hal yang lumrah oleh Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Tjandra Yoga Aditama.

Menurutnya, jika borus bermutasi dan menimbulkan masalah terhadap kerja vaksin maka hal itu menjadi tugas baru bagi industri vaksin global.

Antisipasi Strain Baru

Lebih lanjut, Tjandra juga menyatakan, munculnya mutasi SARS CoV-2 varian D614 sebenarnya sudah lama, tepatnya sejak Februari 2020. 

“Menariknya Pemerintah Inggris melaporkan kemunculan mutasi D614 di Inggris kepada WHO dalam kerangka International Health Regulation yang mengatur kemungkinan penularan penyakit antar negara. Selain di Inggris, mutasi SARS CoV-2 juga terjadi di Afrika Selatan,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Alergi-Imunologi Indonesia Iris Rengganis meyakinkan, varian baru SARS CoV-2 dari Inggris tidak memengaruhi kerja vaksin yang sudah beredar saat ini. 

Namun, varian baru dari Afrika Selatan masih dalam pantauan bagaimana dampaknya terhadap kerja vaksin yang sudah ada saat ini.

”Yang jadi masalah B1351 di Afrika Selatan menunjukkan dualitas. Kalau kadar netralisasinya tinggi itu baik, namun jika rendah tidak berhasil untuk dinetralisasi. Bisa jadi vaksin menjadi tidak efektif,” paparnya.

Di sisi lain, Epidemiolog Universitas Indonesia Pandu Riono mengingatkan bahwa vaksin bukanlah solusi tunggal dalam mengatasi pandemi.

Menurutnya, tak perlu ada persyaratan-persyaratan yang menghambat proses vaksinasi, terlebih yang tidak jelas referensi keilmiahannya.

Pandu juga menjelaskan bahwa vaksin aman untuk lansia 60 tahun ke atas, ditambah Sinovac adalah salah satu vaksin yang tidak memberikan batasan pemberian berdasarkan usia. 

“Vaksinasi ini bermanfaat untuk mencegah angka hospitalisasi dan menurunkan angka kematian. Negara yang memprioritaskan tenaga medis dan lansia 60 tahun ke atas, angka kematian pada usia tersebut yang tadinya 30 persen turun jadi 7 persen,” katanya.

#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitangandengansabun


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

iluni ui Covid-19 Adaptasi Kebiasaan Baru
Editor : Edi Suwiknyo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top