Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

RS di Jabodetabek Penuh, LaporCovid-19: Pemerintah Harus Segera Cari Solusi!

LaporCovid-19 menyatakan saat ini yang perlu diselesaikan pemerintah bukan perkara data pasien melainkan sistem rumah sakit yang sudah mulai kolaps.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 25 Januari 2021  |  13:14 WIB
Ruang instalasi gawat darurat di Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Senin (23/3/2020). Presiden Joko Widodo yang telah melakukan peninjauan tempat ini memastikan bahwa rumah sakit darurat ini siap digunakan untuk karantina dan perawatan pasien Covid-19. Wisma Atlet ini memiliki kapasitas 24 ribu orang, sedangkan saat ini sudah disiapkan untuk tiga ribu pasien. ANTARA FOTO/Kompas/Heru Sri Kumoro - Pool
Ruang instalasi gawat darurat di Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Senin (23/3/2020). Presiden Joko Widodo yang telah melakukan peninjauan tempat ini memastikan bahwa rumah sakit darurat ini siap digunakan untuk karantina dan perawatan pasien Covid-19. Wisma Atlet ini memiliki kapasitas 24 ribu orang, sedangkan saat ini sudah disiapkan untuk tiga ribu pasien. ANTARA FOTO/Kompas/Heru Sri Kumoro - Pool

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk segera mencari solusi terkait kapasitas di sejumlah rumah sakit di wilayah Jabodetabek yang sudah  penuh seiring dengan adanya lonjakan pasien Covid-19.

Co-Leads LaporCovid-19 Irma Hidayana mengatakan pemerintah dan Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 harus fokus mencari solusi terkait kapasitas rumah sakit yang sudah penuh di wilayah Jabodetabek.

"Ini sudah berlarut-larut dari Desember 2020 hingga sampai saat ini sudah banyak warga yang ditolak rumah sakit," kata Irma saat diskusi daring dengan tema "Lindungi Hak Kesehatan Warga dan Keamanan Pelapor" yang dipantau di Jakarta, Senin (25/1/2021).

Hal itu dia lontarkan terkait pernyataan Satgas Covid-19 Depok yang meminta LaporCovid-19 secara transparan membuka data pasien yang ditolak rumah sakit hingga meninggal dalam perjalanan sewaktu mencari rumah sakit.

Perlu dicatat, lanjut Irma, LaporCovid-19 memiliki komitmen untuk melindungi semua data-data pelapor atau warga yang selama ini melaporkan baik itu pelanggaran pelayanan kesehatan atau meminta bantuan agar mendapatkan rumah sakit dan intensive care unit (ICU).

Dia menerangkan laporan tersebut bermula pada 3 Januari 2021, LaporCovid-19 mendapat laporan dari keluarga korban yang saat itu telah selesai melakukan isolasi mandiri.

"Sebelumnya, satu keluarga tersebut dinyatakan positif [Covid-19]," ujarnya.

Salah seorang anggota keluarga bercerita pada Desember 2020 satu keluarga melakukan tes Covid-19 karena orangtua laki-lakinya mengalami keluhan sesak napas, demam dan sebagainya.

Melihat kondisi itu, keluarga langsung ke salah satu rumah sakit swasta dan melakukan pemeriksaan. Saat mencari kamar, pihak rumah sakit menawarkan namun dengan uang muka Rp1 juta.

Dengan uang sebesar itu, pihak rumah sakit menjanjikan ketersediaan kamar bagi pasien. Namun, keluarga memutuskan untuk pulang karena kondisi pasien saat itu masih cukup baik.

Seminggu kemudian, kondisi kesehatan pasien memburuk dan keluarga meminta bantuan Satgas lingkungan setempat termasuk melaporkannya ke puskesmas. Pada saat itu, keluarga dan warga sekitar juga menunggu ambulans hingga beberapa jam, tapi tak kunjung datang.

"Keluarga memutuskan membawa pasien dengan taksi daring sambil berkeliling dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya namun di tengah perjalanan pasien meninggal dunia," ujarnya.

Berangkat dari kasus tersebutlah, Satgas Depok meminta LaporCovid-19 untuk transparan mengenai data pasien. Namun, Irma menolak karena menyangkut komitmen melindungi identitas pasien atau pelapor.

Menurut dia, saat ini yang perlu diselesaikan bukan perkara data pasien tersebut melainkan sistem rumah sakit yang sudah mulai kolaps.

"Banyak orang mencari perawatan di rumah sakit, tetapi situasi rumah sakit di Jabodetabek yang sudah full sehingga tidak bisa menampung lagi," paparnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rumah sakit Virus Corona Covid-19

Sumber : Antara

Editor : Fitri Sartina Dewi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

BisnisRegional

To top