Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Fenomena Bule Hidup & Kerja di Bali, dari Biaya Murah hingga Tak Bayar Pajak

Ajakan pemilik akun Kristen Gray kepada para turis asing untuk tinggal di Bali karena biaya hidup yang murah perlu disikapi serius oleh pemerintah. Pasalnya, jika terus dibiarkan, hal itu akan menjadi bom waktu bagi pariwisata Bali yang kini sedang sekarat akibat pandemi Covid-19.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 18 Januari 2021  |  14:29 WIB
Wisatawan menikmati suasana matahari terbenam di Pantai Kuta, Bali, Selasa (20/3/2018). - JIBI/Rachman
Wisatawan menikmati suasana matahari terbenam di Pantai Kuta, Bali, Selasa (20/3/2018). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA - Seorang wanita warga negara Amerika memicu kemarahan para netizen Tanah Air setelah mengunggah sebuah thread untuk mengajak turis asing tinggal di Bali.

Thread dari akun Kristen Gray pada Sabtu (16/1/2021) berisi tentang bagaimana dirinya putus asa tinggal di Los Angeles dengan biaya hidup tinggi dan kesulitan mencari kerja lalu memutuskan pindah ke Bali.

Dia menceritakan banyak benefit yang dia rasakan selama tinggal di Bali, seperti biaya hidup yang murah, gaya hidup mewah, ramah terhadap queer (identitas seksual minoritas), dan adanya komunitas kulit hitam.

Namun, thread yang kini telah dihapus tersebut justru mendapat serangan dari warga net Indonesia. Bahkan, topik Bali tengah trending di Twitter. Mereka menuding Gray tinggal di Bali tanpa membayar pajak dan merebut pekerjaan warga lokal.

Akun yang berisi informasi terkait dengan ekspatriat di Indonesia, Expat Indo menuliskan “Tidak membayar pajak di negara baru Anda adalah salah. Hukum Indonesia mengharuskan Anda membayar pajak penghasilan dari seluruh negara setelah 183 hari tinggal,” tulisnya.

Gray dinilai mencari keuntungan pribadi dengan mengajak turis asing lain masuk ke Indonesia dengan cara ilegal.

“Sebuah kesalahan bagi mereka yang mempromosikan pertumbuhan pariwisata hingga merugikan orang lainnya. Bahwa pariwisata yang menjadi sumber pendapatan yang berubah-ubah merupakan pelajaran yang belum dipetik, di saat terjadi letusan gunung Agung, gempa Lombok, dan kini Covid,” tulis akun tersebut.

Dikutip dari The Independent, komentarnya tentang hidup mewah disebut sebagai tindakan “tuli nada” mengingat Indonesia adalah negara terpadat dan menjadi perekonomian terbesar di Asia Tenggara, tetapi sekitar seperempat penduduknya hidup di atas garis kemiskinan.

Netizen juga menyoroti betapa berbedanya kehidupan di Tanah Air bagi mereka yang tidak memiliki hak istimewa seperti turis Amerika dan potensi kerusakan yang mendorong lebih banyak turis asing untuk pindah ke Bali.

Sebuah akun bernama Rine mengungkapkan bahwa thread ini sama saja dengan mempromosikan turis asing pindah ke Bali. Dengan gaya hidup mewah turis di Bali, di saat yang sama, warga lokal Bali menderita.

“Rasanya tidak benar, maaf. Saya lelah mendengar konsep seperti ini dari buku-buku sejarah yang saya baca dulu,” tulisnya.

Gray bersama teman wanitanya pindah ke Bali pada 6 bulan lalu di tengah pandemi Covid-19. Kini dia bekerja secara mandiri sebagai entrepreneur desain grafis. Dia tinggal di rumah sewa seharga US$400, jauh berbeda dengan tempat tinggalnya yang seukuran studi di LA senilai US$1.300.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bali amerika serikat
Editor : Edi Suwiknyo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top