Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Toshiba Setop Pesanan Pembangkit Listrik Tenaga Batu Bara

Sejalan dengan itu, perusahaa akan melipatgandakan ukuran bisnis energi terbarukan yang mencakup pembangunan pembangkit listrik tenaga angin, panas bumi, dan tenaga air.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 12 November 2020  |  09:27 WIB
Ilustrasi - toshiba.co.jp
Ilustrasi - toshiba.co.jp

Bisnis.com, JAKARTA - Toshiba akan berhenti menerima pesanan untuk pembangkit listrik berbahan bakar batu bara karena dorongan menuju energi terbarukan semakin meningkat.

Kepala Eksekutif Toshiba Nobuaki Kurumatani mengatakan perusahaan Jepang sedang mempersiapkan perubahan paradigma di sektor energi global.

Dia menguraikan rencana perusahaan untuk melipatgandakan ukuran bisnis energi terbarukan yang mencakup pembangunan pembangkit listrik tenaga angin, panas bumi, dan tenaga air.

“Kami telah memutuskan untuk berhenti menerima pesanan pembangkit listrik tenaga panas berbahan bakar batu bara yang mengeluarkan karbon dioksida dalam jumlah besar,” tegasnya, dikutip dari The Telegraph, Kamis (11/12/2020).

Batubara digantikan oleh gas di banyak pembangkit listrik di seluruh dunia karena upaya untuk mengurangi emisi karbon.

Jumlah pembangkit listrik global dari batu bara turun 3 persen tahun lalu, penurunan terbesar selama hampir 30 tahun. Di Inggris, pembangkit listrik Yorkshire Drax telah mengubah empat dari enam unitnya dari batu bara menjadi biomassa dan berencana untuk mengubah dua lainnya menjadi gas.

Presiden terpilih AS Joe Biden kemungkinan akan mempercepat pergeseran menuju energi terbarukan dan dia berjanji untuk mengikat AS sekali lagi pada Perjanjian Paris untuk mengekang pemanasan global setelah ditinggalkan oleh Presiden Trump. Biden juga menegaskan AS akan menginvestasikan lebih dari US$400 miliar (£305 miliar) untuk energi bersih.

Bulan lalu, Jepang menjadi negara terbaru yang berjanji untuk mengurangi emisi karbon menjadi nol bersih pada tahun 2050. Perdana Menteri Yoshihide Suga mengatakan bahwa menanggapi perubahan iklim tidak lagi menjadi kendala pertumbuhan ekonomi.

Penggunaan bahan bakar fosil Jepang sendiri untuk pembangkit listrik telah meningkat setelah bencana Fukushima 2011, ketika radiasi bocor dari pembangkit listrik tenaga nuklir akibat kerusakan setelah gempa bumi dan tsunami.

Kendati demikian, Toshiba mengatakan akan terus membangun 10 pembangkit listrik tenaga batu bara yang sudah dirintisnya. Komitmennya fokus pada komitmen untuk tidak menerima pesanan baru. Langkah ini mengikuti komitmen serupa yang dibuat sejak September oleh rival General Electric dan Siemens Energy.

Pada hari Rabu, perusahaan melaporkan penurunan 64 persen dalam laba operasi kuartalan menjadi 15,7 miliar yen, turun dari 44,2 miliar yen tahun lalu karena pandemi menunda sejumlah proyek dan menekan permintaan.

Pada 2018, Toshiba telah meninggalkan konstruksi nuklir di luar negeri dan menjual divisi tenaga nuklirnya yang bermasalah ke Westinghouse Electric.

Sementara itu, ketergantungan energi fosil di Indonesia masih sangat tinggi. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat sumbangan energi fosil dari seluruh pembangkit listrik Indonesia per Agustus 2020 mencapai 60.485 MW setara 85,31 persen dari total kapasitas terpasang.

Sayangnya, pembangkit listrik dari Energi Baru Terbarukan (EBT) baru mencapai 10.426 setara 14,71 persen dari total kapasitas terpasang. Data PLN pada 2019 menunjukkan bahwa pembangkit tenaga batu bara memiliki porsi sebesar 61 persen dari total produksi listrik nasional.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

toshiba energi terbarukan Pembangkit Listrik Tenaga Batu Bara
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top