Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ironis! Libur Panjang Diimbau di Rumah, Tapi Akses Jalan Dibuka Lebar

Pemerintah mengimbau masyarakat agar memanfaatkan libur panjang pada akhir bulan ini dengan tetap berada di rumah masing-masing. Namun, akses jalan tol dibuka lebar agar tidak terjadi kemacetan selama libur panjang. 
Hendri Tri Widi Asworo
Hendri Tri Widi Asworo - Bisnis.com 25 Oktober 2020  |  16:22 WIB
Sejumlah kendaraan melintasi ruas jalan Tol Jakarta-Cikampek, Bekasi, Jawa Barat, Senin (11/5/2020). Menurut data Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Danang Parikesit penurunan lalu lintas harian rata-rata (LHR) kendaraan jalan tol selama PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten sebesar 42% - 60 %. ANTARA FOTO  -  Fakhri Hermansyah
Sejumlah kendaraan melintasi ruas jalan Tol Jakarta-Cikampek, Bekasi, Jawa Barat, Senin (11/5/2020). Menurut data Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Danang Parikesit penurunan lalu lintas harian rata-rata (LHR) kendaraan jalan tol selama PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten sebesar 42% - 60 %. ANTARA FOTO - Fakhri Hermansyah

Bisnis.com, JAKARTA - Pekan depan menetapkan cuti bersama bersamaan dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada tanggal 29 Oktober 2020. Praktis hari kerja pada pekan depan hanya 2 hari selebihnya libur atau cuti bersama sampai akhir pekan.

Kendati memberlakukan cuti bersama, pemerintah mengimbau masyarakat tetap berada di rumah karena risiko penularan Covid-19 masih tinggi. Apalagi, berdasarkan statistik sebelumnya, ada lonjakan kasus positif setelah libur panjang hari raya Idul Adha.

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian sebelumnya mengimbau masyarakat agar memanfaatkan libur panjang pada akhir bulan ini dengan tetap berada di rumah masing-masing. 

“Lebih baik mungkin mengisi waktu di tempat masing-masing, beres-beres rumah atau tempat tinggal, menikmati liburan bersama keluarga di kediaman masing-masing. Itu yang diharapkan,” ujar Tito usai Rapat Terbatas mengenai antisipasi libur panjang dengan Presiden Joko Widodo, Senin (19/10/2020).

Namun, apabila hendak ke luar kota, sebaiknya terlebih dahulu memiliki hasil negatif Covid-19 dari tes PCR. Dengan demikian tidak akan menjadi pembawa virus bagi keluarga dan orang lain. “Kita ingat klaster keluarga, satu terkena semua terkena,” tegasnya.

Selain itu, Tito meminta masyarakat yang bepergian untuk menghindari kerumunan yang menyebabkan kesulitan menjaga jarak. Protokol kesehatan harus menjadi kebiasaan di mana pun dan apa pun kegiatannya.

Dalam pembukaan rapat terbatas, Presiden Joko Widodo juga meminta jajarannya mengantisipasi penularan virus Corona pada libur panjang akhir bulan ini. Jokowi mengatakan Indonesia memiliki pengalaman libur panjang yang mengakibatkan kasus positif meningkat.

Seperti diberitakan sebelumnya, Satuan Tugas Penanganan Covid-19 mencatat liburan panjang pada 16 - 22 Agustus 2020 menjadi penyebab penambahan kasus baru Covid-19 di DKI Jakarta.

Dalam dua hari, 30 - 31 Agustus, penambahan kasus baru naik signifikan dibandingkan hari sebelumnya, atau mencapai lebih dari 1.000 orang.

Satgas Penanganan Covid-19 pun meminta masyarakat staycation di rumah pada masa libur panjang pekan depan. Juru bicara Satgas Penanganan Covid-19 Reisa Broto Asmoro mengatakan libur panjang akan menjadi tantangan masyarakat untuk menguji kedisplinan protokol kesehatannya.

Hal ini mengingat pada dua periode libur panjang sebelumnya telah memberikan pelajaran penting lantaran kasus Covid-19 melonjak tajam. Untuk itu, masyarakat didorong untuk lebih memilih staycation atau berlibur di rumah saja.

"Pilihan ini adalah yang paling aman karena kita yang mengendalikan lingkungan rumah kita menjalankan protokol kesehatan pafa keluarga," ujarnya, Jumat (23/10/2020).

Menurutnya, banyak acara seru yang dapat menjadi pilihan, yakni virtual tour ke tempat-tempat wisata yang tersedia di situs internet.

AKSES JALAN DIPERLONGGAR

Kendati mengimbau masyarakat berada di rumah selama libur panjang, tetapi pemerintah justru membuka akses jalan dengan tujuan mengurai kemacetan.

Pembukaan akses jalan berupa pembatasan truk masuk tol Jakarta-Cikampek selama periode libur panjang tersebut. Kebijakan pembatasan truk ini biasanya hanya dilakukan pada hari raya Idulfirti dan libur hari raya Natal dan tahun baru.

Selain itu, pemerintah juga menyetop pengerjaan proyek di Jalan Tol Layang Cikampek untuk memperlancar akses kendaraan yang ingin ke luar kota. Hal tersebut diumumkan oleh pengelola tol Jasa Marga beberapa hari lalu. 

Pembatasan truk selama libur panjang sendiri mendapatkan protes dari para pelaku usaha transportasi logistik. Pemerintah dinilai selalu mengorbankan angkutan barang ketika terjadi lonjakan arus lalu lintas.

Ketua DPP Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Gemilang Tarigan mengungkapkan keputusan pemerintah dalam hal ini Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menunjukkan persepsi yang kurang tepat terhadap angkutan barang.

"Keputusan pemerintah ini kelihatan mereka utamakan angkutan penumpang daripada barang. Persepsi masih begitu terus, sehingga setiap ada kekhawatiran peningkatan jumlah lalu lintas maka mereka selalu hanya satu korbannya angkutan barang," ujarnya kepada Bisnis.com, Kamis (22/10/2020).

Dia menilai regulator terutama pihak Kepolisian lebih banyak tidak mau ambil pusing ketika ada potensi lonjakan arus lalu lintas seperti libur panjang kali ini. Pasti angkutan barang yang dikorbankan sementara angkutan penumpang pribadi tetap diutamakan.

Padahal, sebenarnya bisa saja memberikan solusi yang sama-sama baik bagi para pemangku kepentingan bagi pengguna kendaraan pribadi, angkutan umum penumpang, maupun angkutan barang.

"Kepolisian mereka tidak mau ambil risiko langsung saja angkutan barang dikorbankan, logistik ini kenyamanan orang berinvestasi dan berbisnis, mereka tidak pernah tahu," katanya.

Sementara itu, Epidemiolog dan Tokoh Agama berharap masyarakat bisa tetap menjaga diri agar liburan tetap aman tak tertular dan menularkan Virus Corona.

Ketua Departemen Epidemiologi UI Tri Yunis Miko menilai liburan itu bukan sesuatu yang salah, sebaliknya bisa diisi dengan sesuatu yang bermanfaat, tetap aman, dan terhindar dari semua penyakit.

Salah satu caranya, jelas dia, adalah dengan memastikan tetap jaga jarak di mana saja dan berwisata ke tempat yang memenuhi protokol kesehatan yang baik.

“Jadi kalau liburan kita mau isi dengan berkumpul bersama keluarga, teman, tapi pakai protokol kesehatan, jaga jarak, pakai masker, dan cuci tangan pakai sabun. Kalau itu dipenuhi liburan kita tetap sehat,” kata Tri dalam konferensi pers, Rabu (21/10/2020).

Selanjutnya, sebelum bepergian, pastikan kita tahu mau pergi ke mana. Pastikan juga wilayah yang akan dikunjungi minimal masuk zona kuning.

“Kalau ke zona merah sebaiknya dihindari. Mau seperti apapun kita menjaga diri tetap punya risiko tinggi tertular Covid-19 di sana, mau jalan-jalan ke mal atau ke mana pun berisiko tinggi tertular,” tegasnya.

Di zona oranye pun tetap berisiko, oleh karena itu Tri menyebutkan agar sebaiknya pilih ke zona kuning paling minimal.

“Kalau terpaksa sekali, kita pakai protokol kesehatan yang ketat, kalau ke zona oranye kita harusnya pakai masker, jaga jarak, cuci tangan pakai sabun, dan kalau perlu pakai face shield,” tegasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Liburan Virus Corona Covid-19 Protokol Pencegahan Covid-19
Editor : Hendri Tri Widi Asworo
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top