Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pengangguran Jepang Naik ke Level Tertinggi dalam Tiga Tahun

Meskipun tingkat pengangguran meningkat selama dua bulan berturut-turut, jumlah orang yang kehilangan pekerjaan jauh lebih sedikit dibandingkan negara-negara besar lainnya selama pandemi Covid-19.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 02 Oktober 2020  |  09:28 WIB
Pabrik Toyota di Jepang.  - Toyota
Pabrik Toyota di Jepang. - Toyota

Bisnis.com, JAKARTA – Tingkat pengangguran di Jepang pada bulan Agustus 2020 meningkat ke level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Banyak orang kembali mencari pekerjaan di tengah meningkatnya aktivitas ekonomi.

Dilansir dari Bloomberg, Kementerian Dalam Negeri Jepang mencatat tingkat pengangguran naik menjadi 3 persen dari 2,9 persen pada bulan sebelumnya, level tertinggi sejak Mei 2017.

Meskipun tingkat pengangguran meningkat selama dua bulan berturut-turut, jumlah orang yang kehilangan pekerjaan jauh lebih sedikit dibandingkan negara-negara besar lainnya selama pandemi Covid-19.

Namun, pemulihan pasar tenaga kerja Jepang diperkirakan akan berlangsung lama, karena sentimen bisnis di usaha kecil yang cenderung padat karya masih tertekan.

Data pengangguran menunjukkan bahwa lebih dari 500.000 posisi telah hilang di sektor manufaktur dibandingkan tahun sebelumnya, sedangkan lebih dari 250,000 karyawan di hotel dan restoran mengalami PHK.

Ekonom BNP Paribas SA Azusa Kato mengatakan rendahnya pengangguran di Jepang sebagian besar berkat stimulus besar-besaran pemerintah untuk melindungi pasar tenaga kerja. Namun, tingkat pengangguran dapat terus meningkat karena lebih banyak orang kembali mencari pekerjaan.

“Perusahaan berusaha mempertahankan tenaga kerja, tetapi mereka tidak cukup percaya diri untuk mempekerjakan lebih banyak,” ungkap Kato, seperti dikutip Bloomberg.

Preseden hukum yang melindungi pekerja penuh waktu dan penyangga modal yang besar di neraca perusahaan telah membantu mencegah terjadinya lebih banyak PHK, bersamaan dengan pinjaman berbunga rendah dan stimulus dari pemerintah agar pekerja tetap digaji.

Akan tetapi, pemulihan ekonomi dan pasar tenaga kerja sangat bergantung pada perkembangan pandemi Covid-19. Untuk produsen yang bergantung pada ekspor, peningkatan penyebaran virus di Eropa dan pasar utama lainnya mengaburkan prospek pendapatan.

Di dalam negeri, larangan turis internasional terus membebani hotel dan restoran, dengan tingkat tawaran pekerjaan baru turun 49 persen pada Agustus dibandingkan dengan tahun lalu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi jepang tingkat pengangguran
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top