Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Perintah Tinggal di Rumah Lebih Efektif Tekan Penyebaran Virus Corona

Studi dari University of Pennsylvania mengatakan langkah tersebut lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan penutupan bisnis.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 24 September 2020  |  12:17 WIB
Sel virus Corona - Istimewa
Sel virus Corona - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Perintah tinggal di rumah oleh pemerintah negara bagian Amerika Serikat terbukti lebih ampuh memerangi penyebaran virus corona daripada penutupan bisnis sambil menggerus lapangan kerja secara perlahan.

Pernyataan ini diungkapkan oleh tiga orang peneliti asal University of Pennsylvania, ekonm Kent Smelters, analis Alexander Arnon, dan John Rico, dalam sebuah studi baru yang dirilis pada Rabu (23/9/2020).

Dilansir dari Bloomberg, studi tersebut menyebut bahwa intervensi yang menargetkan perilaku individu seperti perintah tinggal di rumah lebih efektif dalam mengurangi penularan virus.

“Selain itu, dampak negatif terhadap perekonomian lebih rendah daripada langkah-langkah penutupan bisnis," tulis mereka.

Studi ini adalah salah satu dari beberapa makalah yang dipresentasikan pada konferensi yang diselenggarakan oleh Brookings Institution di Washington pada Kamis (24/9/2020) guna mempelajari dampak Covid-19 terhadap ekonomi AS.

Ketiga orang tersebut tersebut mengatakan upaya pemerintah untuk menutup sekolah dan bisnis serta mendorong individu untuk menjaga jarak sosial menyelamatkan sekitar 33.000 nyawa di AS hingga 31 Mei.

Dari jumlah tersebut, mereka menyimpulkan bahwa tindakan tinggal di rumah paling banyak dilakukan, berkontribusi sekitar setengah dari jumlah tersebut. Sementara itu, penutupan berkontribusi sekitar 28 persen, sedangkan penutupan bisnis yang tidak penting menyumbang 22 persen.

Sementara itu, tindakan tersebut membuat sekitar 3 juta orang kehilangan pekerjaan, atau 15 persen dari total hilangnya lapangan kerja sejak awal pandemi hingga Mei. Hampir setengah dari dampak tersebut disebabkan oleh penutupan bisnis, 30 persen oleh perintah tinggal di rumah, dan 22 persen oleh penutupan sekolah.

“Penutupan bisnis menyumbang bagian penurunan pekerjaan yang jauh lebih besar daripada penurunan tingkat penyebaran (48 persen vs. 22 persen), sementara yang sebaliknya berlaku untuk perintah tinggal di rumah (30 persen vs. 50 persen),” tulis mereka.

Dalam makalah lain yang dirilis, empat ekonom termasuk Fabian Lange dari McGill University mengatakan peran perumahan tenaga kerja sementara yang terlalu besar dalam resesi Covid-19 akan menghasilkan pemulihan pasar kerja yang lebih cepat.

Mereka memperkirakan tingkat pengangguran akan turun menjadi rata-rata 7,1 persen pada kuartal IV/2020. Adapun, ekonom yang disurvei Bloomberg memperkirakan tingkat pengangguran akan mencapai 8,5 persen.

Ekonom Kenneth Rogoff, Carmen Reinhart, dan Ethan Ilzetzki memperingatkan stabilitas nilai tukar saat ini yang dicapai melalui suntikan likuiditas besar-besaran dari bank sentral mungkin menutupi kerapuhan, bukan kekuatan.

“Ini adalah pertanyaan terbuka. Seiring dengan pemulihan ekonomi, peningkatan likuiditas yang lebih tinggi pada akhirnya akan berubah menjadi inflasi, terutama jika bank sentral tetap khawatir dengan pertumbuhan yang rendah dan hutang sektor publik dan swasta yang tinggi,” kata mereka.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona covid-19
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top