Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Atasi Dampak Covid-19, Qodari Tawarkan Skenario Lokomotif Kereta Api

Saat ini kurva kasus positif Covid-19 Tanah Air terus menanjak dan diperburuk dengan kondisi ekonomi yang menurun.
Aprianus Doni Tolok
Aprianus Doni Tolok - Bisnis.com 20 September 2020  |  18:53 WIB
Ilustrasi-Petugas mengambil sampel lendir saat Tes PCR di Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND) Undip Semarang, Rabu (22/4/2020). - Istimewa
Ilustrasi-Petugas mengambil sampel lendir saat Tes PCR di Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND) Undip Semarang, Rabu (22/4/2020). - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah disarankan menerapkan strategi "Lokomotif Kereta Api" agar pandemi Covid-19 tertangani dengan maksimal.

CEO Indobarometer M. Qodari mengatakan kondisi saat ini kurva kasus positif Covid-19 Tanah Air terus menanjak dan diperburuk dengan kondisi ekonomi yang menurun.

Qodari menggambarkan hal ini sebagai skenario A hubungan Covid dan ekonomi.

Di sisi lain, sambungnya, pemerintah berkeinginan agar kurva kasus positif yang terus naik [karena testing yang masif dan tracing agresif] seiring dengan kenaikan ekonomi alias skenario B.

Selain dua skenario itu, Qodari menawarkan skenario ketiga, atau skenario C. "Pemerintah harus mengejar skenario C, di mana kurva Covid turun dan ekonomi naik," ujarnya dalam paparan makalah diskusi, Minggu (20/9/2020).

Menurut Qodarfi skenario B berbahaya karena pada skenario ini kasus Covid naik terus. Selanjutnya, akan sampai pada suatu saat ketika kasus Covid tidak bisa ditangani lagi oleh tenaga dan faskes [fasilitas kesehatan].

Hal itu, ujarnya, terbukti dari tren kasus positif Covid-19 setelah enam buIan penanganan.

Qodari menyebutkan, Presiden Joko Widodo telah menekankan kesehatan sebagai paradigma (baru) penanganan Covid. Namun, perubahan paradigma ini harus diikuti oleh perubahan strategi yakni penerapan skenario C.

Qodari menjelaskan, dalam skenario C, kesehatan (khususnya pencegahan Covid) menjadi lokomotif, sedangkan ekonomi, politik, pendidikan, kesenian, olah raga, dan yang lainnya menjadi gerbongnya.

Sebagai lokomotif, lanjutnya, kesehatan harus dijadikan prioritas baik secara regulasi, kelembagaan, personalia, maupun anggaran.

"Untuk itu regulasi, personalia dan anggaran untuk program maksimal pencegahan Covid harus dihitung, dianggarkan, dan diimplementasikan secepatnya agar Covid juga turun secepatnya," ujarnya.

Selain itu, segala hal yang berpotensi melahirkan ledakan kasus baru seperti Pilkada 2020 harus disiasati.

Qodari menilai penyelenggaran proses Pilkada harus dilakukan dengan strategi khusus yang mencegah terjadinya kerumunan.

Selain itu, pada hari H pencoblosan, kedatangan para pemilih ke TPS harus didesain sedemikian rupa agar tidak terjadi kerumunan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi covid-19
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top