Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pertumbuhan Kredit China Melonjak, Dongkrak Pemulihan Ekonomi

Pemulihan pertumbuhan pembiayaan Negeri Tirai Bambu tersebut didorong oleh penerbitan surat utang pemerintah dan kebijakan pelonggaran lainnya untuk mendukung pemulihan ekonomi.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 11 September 2020  |  18:24 WIB
Kantor pusat People's Bank of China di Beijing -  Bloomber / Qilai Shen
Kantor pusat People's Bank of China di Beijing - Bloomber / Qilai Shen

Bisnis.com, JAKARTA - Pertumbuhan pembiayaan China kembali menyentuh level tertinggi sejak Maret 2020.

Pemulihan pertumbuhan pembiayaan Negeri Tirai Bambu tersebut didorong oleh penerbitan surat utang pemerintah dan kebijakan pelonggaran lainnya untuk mendukung pemulihan ekonomi yang tertekan oleh pandemi virus corona (Covid-19).

Dilansir Bloomberg, Jumat (11/9/2020), Bank Sentral menyebutkan nilai pembiayaan China pada Agustus tercatat 3,58 triliun yuan atau setara US$524 miliar. Nilai ini naik dari realisasi bulan sebelumnya, yang senilai 1,7 triliun yuan dan lebih tinggi dari rerata pembiayaan yang senilai 2,59 triliun yuan.

Penyaluran pada bulan Agustus biasanya terjadi kenaikan dibandingkan dengan Juli.

Ekonomi China mulai pulih setelah dihantam pandemi dan penyebaran virus corona saat ini cukup terkendali. Bank Sentral China telah mencoba untuk menjaga kecukupan likuiditas dan penjualan obligasi pemerintah untuk mendanai stimulus fiskal. Stimulus ini dibutuhkan untuk mendongkrak penyaluran pembiayaan dan pertumbuhan ekonomi.

"Penyaluran pembiayaan diprediksi tetap kuat pada September dan Oktober yang didorong oleh mandat penerbitan obligasi pemerintah yang cukup besar," ujar Lu Ting, Kepala Ekonom Nomura Holdings Inc.

Lembaga jasa keuangan tercatat memberikan kredit baru senilai 1,28 triliun yuan pada bulan kedelapan, lebih tinggi dibandingkan dengan prediksi senilai 1,25 triliun yuan.

Penyaluran kredit jangka menengah dan jangka panjang ke sektor rumah tangga dan perusahaan nonfinansial tetap kuat, tetapi secara keseluruhan pertumbuhan kredit tertekan kontraksi di segmen pembiayaan jangka pendek ke korporasi.

Ekonom Bloomberg David Qu mengatakan pembiayaan agregat menunjukkan tekanan dalam pendanaan mulai mereda, yang terlihat dari perusahaan-perusahaan banyak mencari pendanaan melalui pinjaman dan obligasi.

"Hal ini menghilangkan beberapa tekanan dari Bank Rakyat China untuk melonggarkan kebijakan, tetapi tidak cukup untuk mengubah pendiriannya dari pelonggaran tambahan," kata David.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kredit china pendanaan

Sumber : Bloomberg

Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top