Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Demi Pulihkan Ekonomi, Thailand Legalkan Ganja untuk Kepentingan Medis

Kabinet baru saja mengamandemen Undang-Undang Narkotika pada 4 Agustus 2020 untuk mengizinkan perusahaan medis swasta - termasuk beberapa praktisi pengobatan tradisional dan petani - untuk menanam dan memperdagangkan ganja untuk ekspor dan impor.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 10 Agustus 2020  |  13:08 WIB
Tanaman ganja atau mariyuana - Bloomberg/Chris Roussakis
Tanaman ganja atau mariyuana - Bloomberg/Chris Roussakis


Bisnis.com, JAKARTA - Perekonomian Thailand yang sakit, terutama sektor pariwisata dan pertaniannya, bersiap untuk mendapatkan dorongan dari aturan baru yang memudahkan budidaya dan penjualan ganja untuk keperluan medis.

Kabinet baru saja mengamandemen Undang-Undang Narkotika pada 4 Agustus 2020 untuk mengizinkan perusahaan medis swasta - termasuk beberapa praktisi pengobatan tradisional dan petani - untuk menanam dan memperdagangkan ganja untuk ekspor dan impor. Amandemen ini tinggal menunggu persetujuan parlemen.

Langkah ini memperluas kebijakan penting Wakil Perdana Menteri dan Menteri Kesehatan Anutin Charnvirakul yang bertaruh bahwa legalisasi ganja yang terkontrol akan meningkatkan sektor kesehatan, perjalanan, dan pertanian.

Undang-undang terbaru akan mencabut batasan yang diberlakukan ketika negara itu pada 2018 menjadi yang pertama di Asia Tenggara yang melegalkan penggunaan obat dari ramuan ganja tersebut.

Langkah ini juga mengikuti pembukaan sebuah klinik medis ganja di fasilitas Kementerian Kesehatan yang menawarkan obat gratis kepada pasiennya. Ini belum termasuk 147 klinik resmi di negara yang saat ini dapat meresepkan obat dengan kandungan ganja.

"Thailand sudah menjadi tujuan wisata bagi banyak orang asing, dan ganja akan menjadi daya tarik lain bagi negara dan wisatawan medis," kata Marut Jirasrattasiri, Direktur Jenderal Departemen Pengobatan Tradisional dan Alternatif Thailand, dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg.

Menurutnya, praktisi medis swasta dengan lisensi akan mendapatkan hak untuk menanam, memproduksi dan mengekspor ganja.

Nantinya, petani Thailand akan mendapatkan lebih banyak pilihan untuk mendapatkan penghasilan.

Tidak hanya itu, pemerintah akan memberikan prioritas kepada investor lokal.

"Kami ingin mengunakan mata uang Thailand, terutama berkolaborasi dengan pemerintah dan komunitas untuk memperkuat pengetahuan, riset dan produksi," kata Marut.

Pertanian dan pariwisata adalah sektor penting bagi ekonomi Thailand. Sepertiga warga Thailand bekerja di sektor pertanian, terutama beras.

Sementara itu, menurut Global Wellness Institute, sektor pariwisata kesehatan atau wellness telah berhasil memberikan kontribusi kepada PDB Thailand hingga US$12 miliar pada 2017, lebih besar dibandingkan kombinasi antara Indonesia dan Malaysia

Ekonomi Negeri Gajah Putih ini diperkirakan mengalami kontraksi hingga 8,5 persen pada 2020 di tengah pandemi virus Corona.

Dalam undang-undang yang berlaku, kepemilikan ganja secara ilegal dapat dikenakan hukuman penjara hingga 10 tahun. Sementara itu, perdagangan ganja dijatuhi hukuman seumur hidup atau hukuman mati.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ganja ekonomi thailand

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top