Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

4 Gempa di Tanggal Cantik 7-7-2020, Tanda Akan Ada Gempa Besar?

Gempa berurutan selama empat kali pada empat tempat berbeda di tanggal cantik 7-7-2020 menimbulkan sejumlah pertanyaan. Akan ada gempa besar?
Saeno
Saeno - Bisnis.com 07 Juli 2020  |  18:41 WIB
Ilustrasi-Grafik hasil pencatatan seismometer/seismograf, alat pencatat besaran gempa bumi. Gempa berurutan selama empat kali pada empat tempat berbeda di tanggal cantik 7-7-2020 menimbulkan sejumlah pertanyaan. - Reuters
Ilustrasi-Grafik hasil pencatatan seismometer/seismograf, alat pencatat besaran gempa bumi. Gempa berurutan selama empat kali pada empat tempat berbeda di tanggal cantik 7-7-2020 menimbulkan sejumlah pertanyaan. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika mengaku menerima sejumlah pertanyaan terkait empat kali gempa bumi di empat tempat berbeda, Selasa (7/7/2020).

Di antara pertanyaan yang muncul adalah soal kemungkinan empat gempa itu sebagai penanda akan terjadinya gempa besar di Indonesia.

Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono.menyebutkan sulit diprediksi apakah empat kali gempa itu penanda akan adanya gempa besar.

"Tetapi dengan adanya rentetan aktivitas gempa ini tentu patut kita waspadai. Karena dalam ilmu gempa atau seismologi, khususnya pada teori tipe gempa itu ada tipe gempa besar yang kejadiannya diawali dengan gempa pendahuluan atau gempa pembuka," ujar Rahmat dalam keterangan tertulisnya, Selasa.

Ditambahkan Rahmat, setiap gempa besar hampir dipastikan didahului dengan rentetan aktivitas gempa pembuka.

"Tetapi rentetan gempa yang terjadi di suatu wilayah juga belum tentu berakhir dengan munculnya gempa besar," lanjut Rahmat.

Hal itu, ujar Rahmat, merupakan karakteristik ilmu gempa yang memiliki ketidakpastian (uncertainty) tinggi dan penting untuk dipahami.

"Banyak pertanyaan masyarakat apakah gempa di Banten Selatan dan Selatan Garut bersumber dari sumber gempa yang sama?," ujar Rahmat.

Disebutkan Rahmah bahwa kedua gempa tersebut bersumber dari sumber gempa yang berbeda.

"Gempa Banten selatan terjadi akibat adanya deformasi batuan pada slab Lempeng Indo-Australia di Zona Benioff di kedalaman 87 kilometer, sementara Gempa Selatan Garut dan Selatan Selat Sunda dipicu oleh adanya deformasi batuan pada slab Lempeng Indo-Australia di Zona Megathrust," papar Rahmat.

Guncangan gempa M5,1 yang bersumber di Lebak sangat dirasakan di Jakarta karena adanya fenomena efek tapak (local site effect).

"Efek soft sedimen atautanah lunak yang tebal di Kota Jakarta memicu terjadinya resonansi gelombang gempa sehingga guncangan gempa diamplifikasi, diperbesar guncangannya sehingga wilayah Jakarta sangat merasakan gempa tersebut," urai Rahmat.

Rahmat menambahkan, dalam teori gempa disebutkan bahwa dampak gempa tidak saja akibat magnitudo gempa dan jaraknya dari sumber gempa.

"Kondisi geologi setempat sangat menentukan dampak gempa," terang Rahmat.

Hari ini, Selasa (7/7/2020), empat kali gempa di empat lokasi berbeda menggoyang wilayah Indonesia.

Gempa di tanggal cantik 7 Juli 2020 atau 7-7-2020 ini terjadi di dekat Jepara, Banten, Garut, dan Selat Sunda dengan berbagai kekuatan.

"Gempa yang terjadi secara beruntun pada hari ini Selasa 7 Juli 2020 tidak memiliki kaitan dengan gempa yang terjadi sebelumnya," ujar Rahmat.

Disebutkan Rahmat, gempa Laut Jawa di utara Jepara berkekuatan M 6.1 terjadi pukul 05.54.44 WIB. Gempa di Selatan Banten dengan kekuatan M 5.1 terjadi pukul 11.44.14 WIB.

Selanjutnya, gempa di Selatan Garut berkekuatan M5.0 terjadi pukul 12.17.51 WIB, sedangkan gempa di Selatan Selat Sunda dengan kekuatan  M 5.2 terjadi pada 13.16.22 WIB .

Gempa-gempa tersebut, lanjut Rahmat berada pada sumber gempa yang berbeda, kedalaman yang berbeda, terjadi dengan mekamisme berbeda pula.

Rahmat menjelaskan apa yang terjadi di beberapa wilayah gempa tersebut adalah manifestasi pelepasan medan tegangan pada sumber gempa masing-masing.

"Masing-masing sumber gempa mengalami akumulasi medan tegangan sendiri-sendiri, mencapai stres maksimum sendiri-sendiri, hingga selanjutnya mengalami rilis energi sebagai gempa juga sendiri sendiri," papar Rahmat.

Hal itu, lanjut Rahmat, terjadi sebagai konsekuensi logis daerah dengan sumber gempa sangat aktif dan kompleks.

"Kita memang memiliki banyak sumber gempa. Jika terjadi gempa di tempat yang relatif berdekatan lokasinya dan terjadi dalam waktu yang relatif berdekatan maka itu hanya kebetulan saja," tegas Rahmat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

gempa BMKG

Sumber : BMKG

Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top