Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Usut Kasus Import Tekstil di Batam, Kejagung Periksa Tiga Saksi

Kejagung bakal memanggil seluruh pihak swasta yang diduga terlibat dalam perkara korupsi importasi tekstil di Batam.
Sholahuddin Al Ayyubi
Sholahuddin Al Ayyubi - Bisnis.com 03 Juli 2020  |  19:24 WIB
Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung, Hari Setiyono. - Istimewa
Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung, Hari Setiyono. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Kejaksaan Agung (Kejagung) tengah mendalami peran Direktur PT Ciptagria Mutiara Busana Robert dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi penyalahgunaan kewenangan importasi tekstil Ditjen Bea dan Cukai tahun 2018 - 2020.

Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Kejagung Febrie Adriansyah mengatakan bahwa tim penyidik bakal memanggil seluruh pihak swasta yang diduga terlibat dalam perkara korupsi importasi tekstil tersebut. 

Menurutnya, sejauh ini penyidik baru memeriksa Direktur PT Ciptagria Mutiara Busana Robert untuk dimintai keterangan dan mendalami perannya dalam kasus tersebut. 

"Pihak swasta yang kami periksa ini adalah untuk mendalami keterlibatannya terkait kasus korupsi importasi tekstil," kata Febrie, Jumat (3/7/2020). 

Secara terpisah, Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Hari Setiyono mengemukakan penyidik juga telah memeriksa satu pihak swasta lainnya yaitu Dewi Sulastri selaku Direktur PT Berkah Anugrah Shabilla Batam dan Erwin Ernano Hoesni selaku Pimpinan Kerja Sama Operasional (KSO) Sucofindo-Surveyor Indonesia serta pejabat Bea dan cukai Batam yaitu Saiful Amri. 

"Pemeriksaan saksi tersebut sebagai pengusaha pengurusan jasa kepabeanan dan dua pejabat yang aktivitasnya di wilayah kepabeanan dilakukan guna mencari serta mengumpulkan bukti proses impor barang dari luar negeri," katanya. 

Sebelumnya, tim penyidik Kejagung menetapkan tersangka terhadap Mukhamad Muklas selaku Kabid Pelayanan Fasilitas Kepabeanan dan Cukai KPU Bea Cukai Batam, Dedi Aldrian selaku Kepala Seksi Pabean dan Cukai III pada KPU Bea dan Cukai Batam dan Hariyono Adi Wibowo selaku Kepala Seksi Pabean dan Cukai I pada KPU Bea dan Cukai Batam. 

Kemudian, Kamaruddin Siregar selaku Kepala Seksi Pabean dan Cukai II pada KPU Bea dan Cukai Batam, serta Irianto selaku pemilik PT Fleming Indo Batam dan PT Peter Garmindo Prima.
 
Para tersangka dijerat Pasal 2 ayat (1) UU No. 31 Tahun 1999 juncto UU No. 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.
 
Selanjutnya, Susidiair Pasal 3 UU No. 31 Tahun 1999 juncto UU No. 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.
 
Diketahui, PT Fleming Indo Batam dan PT Peter Garmindo Prima kerap mengimpor 566 konteiner bahan kain dengan modus mengubah invoice dengan nilai yang lebih kecil untuk mengurangi bea masuk serta mengurangi volume, dan jenis barang dengan tujuan mengurangi kewajiban Bea Masuk Tindakan Pengamanan Sementara (BMTPS) dengan cara menggunakan Surat Keterangan Asal (SKA) tidak sah.
 
"Hal tersebut menjadi salah satu penyebab banyaknya produk kain impor di dalam negeri sehingga menjadi penyebab kerugian perekonomian negara," ujar Hari.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

batam Bea Cukai kejagung tekstil
Editor : Fitri Sartina Dewi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top