Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Aksi protes menuntut perubahan setelah kematian George Floyd di Washington DC, AS. (Bloomberg)
Premium

Kematian Floyd, Panggilan Obama dan Potret Kepolisian Bias Ras

02 Juni 2020 | 09:24 WIB
Kematian Floyd, gelombang kemarahan warga AS bisa menjadi momentum penegakan keadilan tanpa bias ras

Bisnis.com, JAKARTA— Nama George Floyd, seorang warga kulit hitam belakangan populer karena kekerasan berbau ras oleh polisi. Presiden AS era 2009, Barrack Obama pun menyerukan panggilan perubahan bersamaan dengan gelombang protes warga AS. Akankah ini menjadi momentum perubahan?

Kematian George Floyd memunculkan pelajaran penting sekaligus tanda tanya besar. Potret polisi yang digambarkan budaya populer sebagai pelindung dan penebar rasa aman. Alex S. Vitale dalam bukunya The End of Policing yang dikutip dari Vice. Di iklim demokrasi, polisi yang cenderung menggunakan kekerasan menjadi kontras.

Saat kekuatan berada di tangan masyarakat, namun polisi yang otoriter dan membawa kekerasan untuk mengamankan lingkungan justru membawa suasana yang sebaliknya. 

Menariknya, hal itu bukanlah kali pertama melainkan praktik laten. Bahkan AS memiliki Texas Ranger yang sudah disebut sejak tahun 1930-an. Fungsinya yakni alat untuk pembela warga kulit putih saat terdapat konflik antara warga berdarah Spanyol dan Meksiko.

Dia pun menyebut tak perlu memanggil polisi untuk menyelesaikan masalah karena setiap individu harus mengatur sendiri langkahnya agar bisa memeroleh keadilan. Dia justru menekankan pada masyarakat yang didesain mampu memenuhi kebutuhan semua orang di dalamnya.

 “Hal itu fantasi bagi kaum liberal bahwa polisi hadir untuk melindungi kita dari orang jahat,” katanya.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top