Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

China Bersikukuh Implementasikan Kesepakatan Dagang dengan AS

China berkomitmen untuk mengimplementasikan pakta kesepakatan fase pertama dengan Amerika Serikat (AS) meski ditekan oleh dampak pandemi Covid-19 dan memburuknya hubungam bilateral kedua negara.
Amanda Kusumawardhani
Amanda Kusumawardhani - Bisnis.com 22 Mei 2020  |  11:51 WIB
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping bersalaman dalam konferensi pers di Great Hall of the People di Beijing, China, Kamis (9/11/2017). - Bloomberg/Qilai Shen\n
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping bersalaman dalam konferensi pers di Great Hall of the People di Beijing, China, Kamis (9/11/2017). - Bloomberg/Qilai Shen\\n

Bisnis.com, JAKARTA — China berkomitmen untuk mengimplementasikan pakta kesepakatan fase pertama dengan Amerika Serikat (AS) meski ditekan oleh dampak pandemi Covid-19 dan memburuknya hubungam bilateral kedua negara.

“Kami akan bekerja sama dengan AS untuk mengimplementasi kesepakatan dagang fase pertama. China terus berupaya untuk memacu ekonomi dan kerja sama dagang dengan semua negara untuk mendapatkan keuntungan mutual,” kata Perdana Menteri Li Keqiang dalam sidang tahunan di Beijing, dilansir Bloomberg, Jumat (22/5/2020).

Sejak 2 tahun terakhir, administrasi Presiden AS Donald Trump telah memberlakukan bea masuk terhadap produk-produk China dan China pun melakukan pembalasan dengan mengenakan bea masuk atas produk-produk dari Paman Sam.

Kedua negara sepakat untuk menandatangani kesepakatan dagang pada 15 Januari 2020 sehingga memungkinkan China dan AS melonggarkan bea masuk bagi masing-masing produknya. Namun, kesepakatan itu seakan berjalan tanpa arah setelah eskalasi kedua negara itu meningkat akibat pandemi Covid-19.

Pada awal bulan ini, Wakil Perdana Menteri China Liu Hei, perwakilan perdagangan AS Robert Lighthizer, dan Sekretaris Keuangan AS Steven Mnuchin berjanji untuk mengimplementasikan kesepakatan dagang demi mewujudkan ekonomi yang adil.

Namun, pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyatakan bahwa dirinya menghadapi kesulitan dalam berhubungan dengan China kembali memacu pertanyaan mengenai kelangsungan pakta kesepakatan tersebut.

Bahkan, dia sempat mengungkapkan bahwa AS akan untung US$500 miliar jika memutus hubungan dengan China.

Sejumlah kejadian belakangan ini, termasuk langkah Beijing yang ingin menerapkan UU Keamanan Nasional di Hong Kong juga memicu reaksi keras dari AS.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china

Sumber : Bloomberg

Editor : Nurbaiti
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top