Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Stiker kampanye pasangan Donald Trump-Mike Pence untuk Pemilihan Presiden (Pilpres) AS 2020 ditempel di sebuah mobil di Milwaukee, Wisconsin, AS, Kamis (2/4/2020). - Bloomberg/Thomas Werner
Premium

Nasib Donald Trump di Tengah Pandemi Covid-19

Pandemi Covid-19 membuat ekonomi AS ambruk. Bagaimana pengaruhnya terhadap nasib Donald Trump dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) November mendatang?

Bisnis.com, JAKARTA — Dari sisi politik, 3 November 2020 tampaknya masih jauh. Tetapi, dengan jumlah kematian akibat Covid-19 di Amerika Serikat (AS) yang sudah mencapai lebih dari 89.000 orang dan meroketnya angka pengangguran, Pemilihan Presiden (Pilpres) AS kali ini sangat bergantung terhadap kemampuan Donald Trump dalam menangani krisis kesehatan dan memimpin pemulihan ekonomi.

Pandemi Covid-19 pun membuat slogan ‘Make America Great Again’, yang digembor-gemborkan pada 4 tahun yang lalu, kemungkinan akan lebih sulit untuk dijual dalam Pilpres 2020.

Dalam setiap kesempatan, Presiden AS Donald Trump selalu mengklaim bahwa dia telah menghidupkan ekonomi yang seret di bawah kepemimpinan Barack Obama dan terus membangunnya ke level terkuat saat ini. Namun, kini, angka pengangguran terus melonjak dan bahkan mencapai yang tertinggi dalam sejarah Negeri Paman Sam.

Pada April 2020, tingkat pengangguran AS meroket menjadi 14,7 persen, yang tertinggi sejak Depresi Besar (The Great Depression) melanda negara itu pada era 1930-an. Kondisi ini pun berlangsung hanya 6 bulan sebelum Pilpres 2020 diselenggarakan.

Tekanan terhadap Trump pun datang dari keinginannya yang ingin segera mengakhiri masa lockdown, yang dijalankan di beberapa negara bagian, agar kegiatan ekonomi bisa kembali berjalan normal. Keinginan itu berbanding terbalik dengan mayoritas warga AS yang masih ingin menunggu penurunan kasus baru virus corona secara signifikan sebelum membuka berbagai pembatasan yang diterapkan.

“Pembukaan ekonomi harus dilakukan demi kebaikan semua orang. Tetapi, saya pikir jika periode pemulihan ekonomi dimulai pada September dan Oktober, dan masyarakat melihat semuanya bergerak ke arah yang benar maka mereka akan kembali ke Trump,” kata analis Stephen Moore yang mendukung Trump, seperti dilansir Bloomberg, Jumat (8/5/2020).

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top