Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kasus Covid-19 di AS Naik 2 Kali Lipat, Korban Meninggal Lebih Banyak dari Perang Vietnam

Bandingkan dengan dengan korban perang selama dua dekade itu sebanyak 58.220 orang.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 29 April 2020  |  14:43 WIB
Seorang pekerja laboratorium menunjukkan vial (tabung penampung cairan untuk kepentingan farmasi) yang digunakan dalam kit uji diagnostik virus corona di fasilitas produksi TIB Molbiol Syntheselabor GmbH di Berlin, Jerman, pada 6 Maret 2020. - Bloomberg
Seorang pekerja laboratorium menunjukkan vial (tabung penampung cairan untuk kepentingan farmasi) yang digunakan dalam kit uji diagnostik virus corona di fasilitas produksi TIB Molbiol Syntheselabor GmbH di Berlin, Jerman, pada 6 Maret 2020. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Korban tewas akibat virus corona SARS-CoV-2 di Amerika Serikat (AS) pada Selasa (28/4/2020), melebihi jumlah warganya yang meninggal selama Perang Vietnam pada 1955-1975.

Korban Covid-19 di negara adidaya itu sejak yang pertama dicatat pada 29 Februari 2020 mencapai 58.233 pada Selasa (28/4/2020).

Bandingkan dengan dengan korban perang selama dua dekade itu sebanyak 58.220 orang.

Berdasarkan catatan, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), angka kematian akibat  Covid-19 itu juga melampaui korban flu musiman di negeri itu dalam beberapa tahun terakhir, kecuali untuk musim 2017-2018. 

"Kematian karena flu berkisar dari pada angka 12.000 pada musim 2011-2012 hingga 61.000 selama periode 2017-2018," bunyi data dari CDC.

Laju yang terjadi membuat Washington mengoreksi prediksi kematian akibat Covid-19 di Amerika dari 67.600 menjadi 74.000 per 4 Agustus 2020.

Perhitungan yang dibuat menurut model prediksi University of Washington itu yang sering dikutip oleh pejabat Gedung Putih.

Jumlah kasus infeksi virus corona di AS juga meningkat dua kali lipat dalam 18 hari. Angkanya per artikel ini ditulis, Rabu (29/4/2020), menjadi 1.035.765 (meninggal 59.266 orang) menurut Worldometers, atau 1.012.583 versi Johns Hopkins University (meninggal 58.355 orang). 

Keduanya sama menempatkan AS di urutan teratas pandemi dengan jumlah kasusnya yang menyumbang sepertiga kasus di seluruh dunia. 

Sekitar 30 persen kasus di Amerika berasal dari negara bagian New York, New Jersey, Massachusetts, California, dan Pennsylvania.

Rata-rata negara bagian itu menyalahkan terbatasnya tenaga terlatih dan peralatannya untuk bisa dilakukan tes Covid-19 yang massal dan cepat.

Sebelumnya, studi baru menggunakan teknik pemodelan di Northeastern University mengungkap dugaan kalau virus corona telah menyebar di banyak kota di Amerika Serikat jauh sebelum masyarakat di negeri itu menyadarinya. 

Ketika kasus pertama Covid-19 terkonfirmasi di New York City pada 1 Maret 2020, misalnya, ribuan infeksi diperkirakan sudah diam-diam menyebar di kota itu. 

Pemodelan yang sama menunjukkan wabah tersembunyi juga menyebar hampir tak terdeteksi di Boston, San Francisco, Chicago dan Seattle jauh sebelum hasil tes dan uji sampel mendapati setiap kota itu memiliki masalah besar.

 “Bahkan di awal Februari—ketika dunia masih fokus ke China—virus itu tidak hanya telah menyebar di banyak kota di Amerika, tapi juga siap menebar wabah infeksi itu di manapun di Amerika,” bunyi hasil riset yang dikutip dari New York Times, Minggu (26/4/2020).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

amerika serikat Virus Corona

Sumber : Antara

Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top