Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Aksi Stok Makanan Bisa Ancam Perdagangan Global

Ketika pemerintah mengambil pendekatan nasionalistis, mereka berisiko mengganggu sistem internasional yang saling berhubungan erat dalam beberapa dekade terakhir.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 25 Maret 2020  |  18:48 WIB
Salah satu supermarket di London, Inggris, yang mengalami kekosongan stok barang akibat panic buying -  Bloomberg / Bryn Colton
Salah satu supermarket di London, Inggris, yang mengalami kekosongan stok barang akibat panic buying - Bloomberg / Bryn Colton

Bisnis.com, JAKARTA - Di tengah kepanikan virus corona yang menyebar dengan cepat, masyarakat menyikapinya dengan menimbun bahan makanan tahan lama seperti beras, tepung terigu, gula, telur dan lain lain.

Bukan hanya masyarakat yang panik, pemerintah di beberapa negara pun harus bertindak agar cadangan domestik mereka tetap cukup selama pandemi berlangsung.

Dilansir melalui Bloomberg, Kazakhstan, salah satu eksportir tepung gandum terbesar dunia, telah melarang ekspor produk tersebut serta sejumlah komoditas pangan lainnya termasuk wortel, gula dan kentang.

Vietnam juga dilaporkan telah melarang kontrak ekspor baru untuk beras sementara waktu. Sementara itu, pemerintah Serbia telah menghentikan pengiriman produk seperti minyak bunga matahari di antara komoditas lainnya.

Pembatasan-pembatasan ini ditakutkan dapat melebar menjadi nasionalisme pangan (food nationalism) atau proteksionisme yang selanjutnya berpotensi mengganggu rantai pasokan dan arus perdagangan.

"Kami sudah mulai melihat hal ini terjadi dan lockdown akan semakin memperburuk keadaan," kata Tim Benton, direktur penelitian emerging risk di think tank Chatham House, London, seperti dikutip melalui Bloomberg, Rabu (25/3/2020).

Meskipun persediaan makanan cukup, rintangan logistik mempersulit untuk mendapatkan produk di tempat yang membutuhkan dimana pandemi ini telah memicu panic buying hingga ancaman krisis tenaga kerja.

Konsumen di seluruh dunia terus menimbun bahan makanan di dapur mereka sementara dampak ekonomi dari virus corona baru saja dimulai.

Pembatasan perdagangan yang diberlakukan sejumlah negara membangkitkan ingatan tentang bagaimana proteksionisme seringkali berakhir dengan lebih banyak kerugian daripada kebaikan.

Beberapa negara telah menambah cadangan strategis mereka.

China, penanam dan konsumen beras terbesar, berjanji untuk membeli lebih dari sebelumnya dari hasil panen domestiknya, meskipun pemerintah sudah memiliki stok beras dan gandum dalam jumlah besar, cukup untuk konsumsi satu tahun.

Importir gandum utama termasuk Aljazair dan Turki juga telah mengeluarkan tender baru, dan Maroko mengatakan penangguhan bea impor gandum akan berlangsung hingga pertengahan Juni.

"Jika pemerintah tidak bekerja secara kolektif dan kooperatif untuk memastikan pasokan global, jika mereka hanya mengutamakan bangsa mereka, Anda dapat berakhir dalam situasi di mana segalanya menjadi lebih buruk," kata Benton.

Dia memperingatkan bahwa menimbun makanan ditambah dengan kebijakan proteksionisme pada akhirnya dapat menyebabkan harga makanan yang lebih tinggi, meskipun siklus ini dapat berakhir dengan sendirinya.

"Jika Anda melakukan panic buying, maka harga akan naik, dan saat harga naik, pembuat kebijakan akan lebih panik," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

makanan Virus Corona covid-19
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top