Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Wabah Virus Corona, Penduduk Amerika Malah Antre Beli Senjata

Salah seorang penjual senjata di Georgia mengatakan bahwa sejak wabah flu burung hingga ebola, tak pernah melihat fenomena seperti ini. Selain senjata, masyarakat juga memburu peluru.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 17 Maret 2020  |  08:52 WIB
Ilustrasi - JIBI/Nurul Hidayat
Ilustrasi - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Ada fenomena unik yang terjadi di Amerika Serikat kala wabah virus Corona (Covid-19) melanda dunia sejak awal tahun ini, termasuk di antaranya menyerang Negeri Paman Sam. Jika di banyak tempat barang yang dicari tak jauh dari sembako, masker, hand sanitizer, atau bahkan tisu, tidak demikian di sejumlah negara bagian di Amerika.

Tidak sedikit orang justru antre untuk beli senjata. Sejak wabah virus Corona dinyatakan sebagai pandemi, sebagian penduduk Amerika menjadikan senjata api sebagai barang yang juga wajib dibeli.

Mengutip situs Independent, Senin malam (16/3/2020), antrean panjang di depan toko senjata terlihat dari California, Alabama, hingga New York. Dan, tidak semua yang mengantre adalah penggemar senjata api, tetapi juga warga yang baru pertama kalinya membeli senjata.

"Dari Ebola hingga flu burung, saya belum pernah melihat hal yang seperti ini," ujar salah satu pemilik toko senjata di Cobb County, Georgia, yang tidak disebutkan namanya.

Tidak hanya senjata api yang ramai diburu, tetapi juga amunisi. Menurut situs Yahoo Finance, penjualan amunisi terus menanjak sejak akhir Februari lalu. Sebagai contoh, dari 23 Februari hingga 4 Maret, penjualan amunisi secara keseluruhan di situs Ammo.com meningkat 68 persen.

Dari sekian banyak amunisi yang terjual, peluru 40 kaliber yang paling banyak dicari. Ammo.com mencatat kenaikan penjualan peluru tersebut sebanyak 410 persen. Adapun peluru 40 kaliber biasanya dipakai untuk senjata jenis handgun.

Marketing Manager Ammo.com, Alex Horsman, mengatakan bahwa peningkatan penjualan umumnya terjadi saat krisis ekonomi. Pada masa itu, biasanya, orang-orang mulai khawatir akan keamanan mereka. Peningkatan penjualan karena pandemi virus, kata ia, justru adalah hal yang belum pernah terjadi sebelumnya.

"Tetapi masuk akal hal itu terjadi. Kebanyakan dari pelanggan kami selalu ingin siap untuk situasi berbahaya...Mereka ingin tahu bahwa dalam situasi apapun, mereka bisa menjaga diri mereka dan keluarga," ujar Horsman.

Sementara itu, seorang pemilik toko senjata di kawasan Arcadia, Califronia mengatakan bahwa pandemi virus Corona telah mempertemukannya dengan banyak pelanggan baru. Sebagian besar di antaranya adalah penduduk Amerika keturunan Asia.

"Kebanyakan dari mereka khawatir menjadi target serangan karena etnis mereka," ujar pemilik toko tersebut.

Sebagai catatan, jumlah korban dan kasus virus Corona di Amerika memang terus meningkat beberapa hari terakhir. Mengutip South China Morning Post, tercatat ada 3689 kasus dan 68 korban meninggal akibat virus Corona (Covid-19) di Amerika per hari ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona covid-19

Sumber : Tempo

Editor : Andya Dhyaksa
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top