Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bahas Dampak Ekonomi Corona, Australia dan Korea Selatan Serukan Pertemuan G20

Negara-negara G20 harus melakukan koordinasi untuk mengantisipasi munculnya krisis keuangan global 2008, sebagai imbas dari wabah virus corona.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 15 Maret 2020  |  16:43 WIB
Presiden Joko Widodo berjalan, di sela-sela menghadiri KTT G20, di Osaka, Jepang, Jumat (28/6/2019). - Istimewa
Presiden Joko Widodo berjalan, di sela-sela menghadiri KTT G20, di Osaka, Jepang, Jumat (28/6/2019). - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Australia dan Korea Selatan menyerukan pertemuan para pemimpin dan kepala keuangan kelompok 20 atau G20 ketika wabah virus corona memicu kepanikan di pasar global.

Perdana Menteri Australia Scott Morrison mendukung usulan Perdana Menteri India Narendra Modi untuk mengatur pertemuan antara para pemimpin G20. Dia juga berhubungan melalui telepon dengan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dan keduanya sepakat bahwa kepala keuangan perlu bertemu.

"Perdana Menteri Boris Johnson dan saya sepakat tadi malam bahwa pertemuan mendesak yang diperlukan adalah pertemuan lebih lanjut para menteri keuangan G20 dan gubernur bank sentral," kata Morrison kepada wartawan di Sydney, dilansir Bloomberg, Minggu (15/3/2020).

Mengutip volatilitas pasar, Morrison mengatakan negara-negara G20 harus mengoordinasikan tindakan seperti yang telah dilakukan selama krisis keuangan global 2008 silam.

"Kami telah melihat sejumlah aktivitas yang sangat fluktuatif dan cukup mengganggu di pasar keuangan kami. Kami ingin diyakinkan melalui kerja sama ini bahwa tidak ada kerugian lebih lanjut pada pasar keuangan. Gubernur bank sentral dan menteri keuangan merupakan kunci untuk langkah ini," kata Morrison.

Demikian pula dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in yang mengusulkan kepada Presiden AS Donald Trump untuk mengadakan pertemuan melalui telekonferensi anggota G20 untuk membahas bagaimana Korea telah memerangi penyebaran virus corona.

Pada pertemuan yang diusulkan, Korea Selatan berencana untuk berbagi informasi tentang pengalamannya dalam menangani penyebaran virus corona secara nasional, hasil-hasil pada uji klinis, serta langkah-langkah respons wabah terhadap ekonomi global.

Sementara itu, para pemimpin dari G7 telah mengisyaratkan akan mengadakan konferensi video tentang virus corona awal pekan depan. Justin Trudeau dari Kanada mengatakan para anggota sepakat untuk mengoordinasikan tanggapan mereka.

Pergerakan tersebut terjadi di tengah kepanikan pasar dan tanda-tanda bahwa ekonomi global sedang melemah ketika negara-negara memberlakukan pembatasan perjalanan. Desakan kepada bank sentral dan pemerintah untuk memangkas suku bunga dan mengeluarkan lebih dari US$130 miliar pada stimulus fiskal belum cukup untuk menghentikan guncangan.

Volatilitas perdagangan melonjak ke tingkat yang belum pernah terjadi sejak krisis keuangan 2008. Tanda-tanda lemahnya likuiditas juga muncul di pasar kredit global dan pasar obligasi pemerintah AS senilai US$17 triliun, sementara dolar melakukan lompatan terbesar dalam 12 tahun.

Kelompok 20 menyumbang sekitar 90 persen dari ekonomi dunia dan menyatukan ekonomi industri serta negara berkembang. Kelompok ini diinisiasi sebagai forum menteri keuangan dan bank sentral dengan pertemuan awal yang berlangsung di Berlin pada Desember 1999.

Saat krisis keuangan pada 2008 menerjang, Presiden AS George W. Bush menjadi tuan rumah pertemuan puncak pertama pada November 2008. Selanjutnya, pada April 2009, para pemimpin berkumpul kembali di London dan menyepakati komitmen yang kini dipandang membantu mengakhiri masa resesi tersebut. Pada September 2009, para pemimpin sepakat pada pembicaraan di Pittsburgh bahwa G20 akan menggantikan G7 sebagai forum kebijakan ekonomi internasional utama.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

g20 Virus Corona
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top