Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penyintas Tsunami Aceh Berharap Generasi Mendatang dapat Memetik Pelajaran

Perjalanan pulang Armilla Yanti dari pasar pada Minggu 26 Desember 2004 berbeda dari hari biasanya, karena kala itu gelombang tsunami yang tinggi menghantam pantai di Aceh.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 23 Desember 2019  |  01:40 WIB
Museum Tsunami - Jibi/Sukirno
Museum Tsunami - Jibi/Sukirno

Bisnis.com, JAKARTA — Perjalanan pulang Armilla Yanti dari pasar pada Minggu 26 Desember 2004 berbeda dari hari biasanya, karena kala itu gelombang tsunami yang tinggi menghantam pantai di Aceh.

Dia dan orangtuanya selamat, tetapi kedua saudara perempuannya meninggal dunia pada hari tersebut. Mendiang keduanya merupakan bagian dari 128.858 orang yang meninggal di Provinsi Aceh Utara, provinsi yang menanggung dampak terberat dari bencana tersebut.

Lima belas tahun kemudian, Armilla sering menghidupkan kembali peristiwa traumatis tersebut ketika menceritakan kisahnya kepada pengunjung di Museum Tsunami Aceh. Dia bekerja sebagai pemandu di sana.

Dengan melakukan hal itu, dia berharap dapat menyebarkan pelajaran yang dipetik dari pengalaman memilukannya saat menjadi korban tsunami. Salah satu hal penting yang disampaikannya seperti pentingnya sistem peringatan dini dan melarikan diri ke tempat lebih tinggi ketika terjadi gempa bumi atau alarm dinyalakan.

"Karena saya mengalami trauma tsunami, ketika saya bertemu pengunjung, saya membagikan pengalaman saya, sehingga mereka tidak akan pernah lupa," ujar Armilla yang berusia 44 tahun, dilansir dari Reuters.

Museum tempatnya bekerja dibangun untuk memperingati bencana tsunami yang meluluh lantahkan Aceh. Terdapat pusat pendidikan dan museum tersebut sekaligus menjadi tempat perlindungan bencana.

Di museum tersebut, para siswa TK Bima al Farizi tidak menunjukkan rasa ragu ketika ditanya apa yang harus dilakukan jika terjadi gempa bumi dan tsunami. "Kita harus lari ke tempat yang lebih tinggi," kata seorang siswa.

Masyarakat pun memiliki rasa mawas yang lebih tinggi terhadap tsunami dan mereka selalu mengingatkan orang-orang lain, khususnya yang lebih muda, akan pentingnya memahami mitigasi bencana. Mundiyah binti Sahan misalnya, perempuan berusia 70 tahun tersebut selalu mengingatkan pentingnya mawas diri.

"Saya selalu memberi tahu generasi muda jika mereka tinggal atau dekat dengan daerah pantai seperti kami, dan jika ada gempa kuat lalu goncangan berhenti, lari saja," ujar Mundiyah, penjual cinderamata di dekat sebuah kapal yang terdampar akibat tsunami.

Banyak masyarakat kehilangan nyawa akibat minimnya informasi tentang apa yang harus dilakukan jika terjadi potensi tsunami. Para pejabat setempat menyatakan bahwa kini mereka melakukan lebih banyak upaya dalam mitigasi tsunami dan mengedukasi masyarakat.

Lebih dari 230.000 orang tewas di Indonesia, Sri Lanka, India, Thailand, dan sembilan negara lainnya setelah gempa berkekuatan 9,1 skala richter mengguncang lepas pantai Aceh. Gempa tersebut memicu tsunami setinggi 17,4 meter.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tsunami aceh

Sumber : Reuters

Editor : Akhirul Anwar
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top