Heboh Telur Ayam Dioksin di Sidoarjo, Menteri LHK: Pemerintah Terus Telusuri Isu Itu

Kementerian LHK telah mengambil sampel telur dan memulai focus group discussions (FGD) para ahli yang dipimpin Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya pada 29 dan 30 November lalu.
Herdiyan
Herdiyan - Bisnis.com 04 Desember 2019  |  04:47 WIB
Heboh Telur Ayam Dioksin di Sidoarjo, Menteri LHK: Pemerintah Terus Telusuri Isu Itu
Menteri LHK Siti Nurbaya saat memimpin diskusi para ahli/akademisi dan pejabat ITS, Unair, UI, BPPT, Polda Jatim, Pemda Jatim, Dirjen dan Direktur KLHK di Gedung Kementerian LHK, Manggala Wanabhakti, Jakarta, Selasa (3/12). - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian LHK telah mengambil sampel telur dan memulai focus group discussions (FGD) para ahli yang dipimpin Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya pada 29 dan 30 November lalu.

Siti mengatakan studi mendalam kandungan dioksin dalam telur ayam di Desa Tropodo, Kabupaten Sidoarjo akan terus didalami. Hal ini dilakukan guna memperoleh kebenaran atas isu sebagai hasil kajian independen berbasis scientific yang memenuhi standar dan kaidah-kaidah ilmiah.

“Ini penting, karena pemberitaan yang telah tersebar itu telah memberi pengaruh kepada  masyarakat sehingga kami memandang perlu untuk mendalaminya,” kata Siti di Jakarta, Selasa (3/12/2019).

Selain itu, menurut Siti, penelitian dan kajian studi ini juga dilakukan untuk pemulihan lingkungan akibat rantai pasok bahan baku impor kertas yang mengandung sampah dan limbah dari Amerika, Australia, Jerman, dan lain-lain.

“Studi ini juga akan mencakup aspek sosial-ekonomi di Desa Bangun, Kabupaten Mojokerto dan Desa Tropodo, Kabupaten Sidoarjo,” tambah Siti.

Lebih lanjut, Siti menjelaskan sejumlah indikasi dan gambaran awal tentang situasi dan kondisi lapangan sudah dapat terlihat dan perlu dikritisi terkait penelitian yang dilakukan dan diekspose secara luas termasuk oleh New York Times.

“Seperti misalnya mengenai jumlah sampel yang tidak merepresentasikan kondisi secara utuh, protokol sampling dan uji laboratorium. Demikian pula dalam kaitan sifat dan karakteristik hewan ujinya, seperti ayam. Hal-hal seperti ini antara lain yang harus didalami dan perlu dikonfirmasi dengan data dan evaluasi hasil sampling serta uji laboratorium,” kata Siti.

KLHK, lanjut Siti, juga meminta bantuan para ahli untuk melakukan riset di dua desa tersebut, khususnya untuk isu dioxin yang meresahkan masyarakat.

Minggu pekan lalu, tim KLHK beserta para peneliti dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Fakultas Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sidoarjo juga turun langsung ke Desa Bangun, Mojokerto, dan Desa Tropodo, Sidoarjo.

Sebagai langkah lanjutan, akhir minggu lalu juga dilakukan focus expert group discussion, langsung dipimpin oleh Menteri LHK dan dihadiri para ahli serta pakar-pakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Universitas Airlangga (UNAIR), BPPT, dan Pusat Laboratorium Forensik Kepolisian Daerah (Puslabfor Polda) Jawa Timur.

Di samping itu, diskusi ini juga dihadiri oleh unsur-unsur Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Timur, Kabupaten Sidoarjo, dan Kabupaten Mojokerto, serta stakeholder terkait lainnya.

“Dalam diskusi dibahas secara mendalam persoalan-persoalan yang berkaitan dengan dioksin serta persoalan-persoalan sosial-ekonomi yang ada di tengah masyarakat,” ungkap Siti.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
telur, klhk

Editor : Herdiyan
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top