Bali Bakal Jadi Pusat Seni Kontemporer Dunia

Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid menilai Bali berpotensi untuk menjadi pusat seni kontemporer dunia dan bisa diwujudkan dalam waktu yang tidak lama.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 06 November 2019  |  17:41 WIB
Bali Bakal Jadi Pusat Seni Kontemporer Dunia
Ilustrasi tari Bali - Antara

Bisnis.com, DENPASAR – Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid menilai Bali berpotensi untuk menjadi pusat seni kontemporer dunia dan bisa diwujudkan dalam waktu yang tidak lama.

"Arsip perjalanan kesenian di Bali banyak sekali dan yang pasti buat saya ekspresi kontemporer ini akan semakin bertenaga kalau punya refleksi terhadap kondisi lokal kita, tradisi dan lingkungan hidup. Selain itu, hubungan sosial di antara manusia yang di Bali ini cukup unik, dunia semakin individual, tetapi kolektivitas masih terasa," ujarnya.

Dia mengemukakan hal itu saat menjadi pembicara utama dalam Sarasehan bertajuk "Menuju Bali Pusat Seni Kontemporer Dunia" dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani, di Denpasar, Rabu (6/11/2019).

 Menurut Hilmar,dengan elemen-elemen atau dimensi yang dimiliki Bali tersebut dapat dijadikan dasar untuk memikirkan ekspresi seni kontemporer yang luar biasa. Selain itu, tidak sedikit seniman-seniman dari Indonesia dan Bali yang berkontribusi sangat besar merumuskan agenda seni kontemporer dunia.

Berbagai festival berskala internasional, lanjutnya, pun telah banyak yang digelar di Pulau Dewata termasuk para pelaku seni dari Bali yang sudah menginternasional dan masyarakatnya sangat lekat dengan tradisi.

"Kalau begitu halnya, kenapa tidak dibawa ke sini? Kita punya kekuatan yang sangat besar," ucapnya pada acara yang dihadiri ratusan peserta dari kalangan budayawan, seniman, akademisi dan tokoh-tokoh masyarakat di Bali itu.

Bali, bagi Hilmar, bisa mewujudkan impiannya menjadi pusat seni kontemporer dunia dalam 5 tahun ke depan. Namun, ini tentu harus dibarengi dengan investasi di berbagai bidang, dari pemikiran, investasi memperkuat SDM, hingga kelembagaan.

"Masyarakat Bali harus benar-benar mengenali apa yang dimiliki dan kemudian memperkuat," ucapnya.

Hilmar pun menyoroti tidak sedikit festival seni budaya yang digelar di Pulau Dewata hanya terbatas meminjam tempat dengan nama Bali yang sudah mendunia.

Oleh karena itu, sebaiknya pemerintah dan masyarakat Bali mulai membuka komunikasi dan berkolaborasi dengan berbagai festival seni kontemporer yang kerap dihelat di Pulau Dewata.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bali, kesenian

Sumber : Antara

Editor : M. Syahran W. Lubis
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top