Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

UI Berharap Kabinet Jokowi Ciptakan SDM Unggul Tanpa Rokok

Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) memusatkan perhatiannya pada periode lanjutan Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan Kabinet Indonesia Maju dengan visi menciptakan Sumber Daya Manusia Unggul.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 24 Oktober 2019  |  07:22 WIB
UI Berharap Kabinet Jokowi Ciptakan SDM Unggul Tanpa Rokok
Suasana perkenalan Kabinet Indonesia Maju oleh Presiden Joko Widodo (tengah) di tangga beranda Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (23/10/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA -  Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) memusatkan perhatiannya pada periode lanjutan Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan Kabinet Indonesia Maju dengan visi menciptakan Sumber Daya Manusia Unggul.

Sebagai salah satu langkah konkrit, Presiden dan Menteri Keuangan secara resmi mengumumkan kenaikan cukai produk tembakau untuk mengendalikan konsumsi rokok terutama pada kalangan remaja dan masyarakat miskin.

Melalui Peraturan Menteri Keuangan RI No.152/PMK.010/2019 tentang perubahan tarif cukai hasil tembakau, Pemerintah Indonesia berupaya melindungi generasi muda dari jerat asap rokok dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang lebih tinggi.

“Kami mengapresiasi yang setinggi-tingginya langkah yang telah dilakukan oleh Presiden Joko Widodo dan Ibu Sri Mulyani atas kebijakan kenaikan cukai hasil tembakau. Ini merupakan bukti keseriusan pemerintah dalam mencapai SDM unggul” ujar Renny Nurhasana, Manajer Program Pengendalian Tembakau PKJS-UI dikutip dari siaran persnya.

Rata-rata kenaikan cukai hasil tembakau berdasarkan peraturan baru yaitu sebesar 21,55% persen dan batas minimal Harga Jual Eceran (HJE) sebesar 33 persen  berlaku sejak 1 Januari 2020. Saat ini harga rokok di Indonesia memang masih tergolong murah, sehingga remaja dan masyarakat miskin masih mampu menjangkau rokok dengan mudah.

Sehingga, dengan naiknya cukai rokok, diharapkan rokok juga menjadi lebih mahal dan tidak mudah dijangkau. 
Kenaikan harga rokok pada dasarnya mendapatkan dukungan dari masyarakat itu sendiri.

“Menurut penelitian PKJS-UI terhadap 1000 orang responden, 88 persen masyarakat mendukung harga rokok naik, bahkan 80,45 persen perokok setuju jika harga rokok naik. Namun kenaikan harga rokok juga harus signifikan sehingga benar-benar mampu menekan konsumsi rokok” tambah Renny.

Di sisi lain, sistem golongan pada cukai rokok mengakibatkan masyarakat miskin dan anak di bawah umur masih memiliki pilihan merek rokok dengan harga lebih murah apabila harga merek rokok yang biasa mereka konsumsi naik.

Oleh karena itu simplifikasi cukai rokok juga perlu diberlakukan agar variasi harga rokok berkurang sehingga konsumsi rokok dapat ditekan. Komitmen presiden dan jajaran menteri dalam kabinet baru diharapkan akan benar-benar mampu secara progresif menciptkan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berkualitas serta bebas dari candu rokok.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

universitas indonesia merokok
Editor : Akhirul Anwar
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top