DPR AS Sebut Publik Mulai Dukung Pemakzulan Presiden Trump

Masyarakat AS diklaim mulai menunjukkan dukungan terhadap rencana pemakzulan atas Presiden AS Donald Trump.
Annisa Margrit
Annisa Margrit - Bisnis.com 29 September 2019  |  09:05 WIB
DPR AS Sebut Publik Mulai Dukung Pemakzulan Presiden Trump
Presiden AS Donald Trump. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA -- DPR AS menyatakan mulai terjadi perubahan opini di publik terkait pemakzulan Presiden AS Donald Trump.
 
Juru Bicara DPR AS Nancy Pelosi mengungkapkan masyarakat mulai mendukung dilakukannya penyelidikan atas Trump menyusul pembicaraannya dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy beberapa waktu lalu.
 
"Ada perubahan di publik. Setelah melihat aduan dan laporan dari Inspektur Jenderal serta sikap pemerintah terhadapnya, warga AS mulai menunjukkan perubahan keputusan," paparnya seperti dilansir Reuters, Minggu (29/9/2019).
 
DPR AS membuka investigasi atas Trump, setelah presiden dari Partai Republik itu disebut mendesak Presiden Zelenskiy untuk menyelidiki Joe Biden dan putranya, Hunter Biden. 
 
Sebuah aduan anonim di Gedung Putih menyebutkan permintaan itu disampaikan Trump dalam sebuah percakapan lewat telepon dengan Zelenskiy. Dalam permintaannya, Trump juga disebut menyinggung penahanan bantuan dana dari AS ke Ukraina. 

Usulan investigasi, yang dapat berujung pada pemakzulan, terhadap Trump didasari oleh pandangan bahwa permintaan Trump berkaitan dengan keamanan nasional AS.
 
Joe Biden adalah Wakil Presiden AS pada masa pemerintahan Barack Obama dan calon kandidat presiden AS dari Partai Demokrat untuk Pemilihan Presiden (Pilpres) 2020. Dia diutus oleh Obama untuk bekerja sama dengan Pemerintah Ukraina dalam hal pemberantasan korupsi.
 
Pada saat yang sama, Hunter Biden diangkat menjadi direksi di salah satu perusahaan energi swasta besar Ukraina. Saat ini, dia sudah tidak bekerja di perusahaan tersebut karena khawatir dapat menimbulkan konflik kepentingan bagi ayahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Donald Trump

Sumber : Reuters

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top