Redam Demo Pelajar SMK, Polisi Ajak Ber-Selfie Ria

Ada-ada saja cara pihak kepolisian menenangkan para demonstran yang notabene merupakan generasi milenial. Mengajak berfoto 'selfie' bersama jadi salah satunya.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 27 September 2019  |  00:01 WIB
Redam Demo Pelajar SMK, Polisi Ajak Ber-Selfie Ria
Ilustrasi - Bisnis/Dioniso Damara

Bisnis.com, JAKARTA — Ada-ada saja cara pihak kepolisian menenangkan para demonstran yang notabene merupakan generasi milenial, mengajak berfoto 'selfie' bersama jadi salah satunya.

Hal ini Bisnis.com saksikan ketika pihak kepolisian menangani petilan massa demonstrasi siswa SMK, Rabu (25/9/2019) sore.

Petilan massa ini berbeda dari pusat aksi yang sempat rusuh di kawasan Slipi. Entah terlambat, atau terpecah, para siswa yang kebanyakan berseragam pramuka ini ketika terjadi pecah kerusuhan, masih berjalan menuju arah gedung MPR/DPR di sekitar JCC Senayan.

Dari arah sebaliknya, pagar Barikade Brimob telah maju menghalangi jalan, komando polisi dengan pengeras suara meminta para siswa mundur,

"Kalian berempati sama teman-teman yang di sana ya? Itu bukan teman kalian kok, kebanyakan perusuh itu di sana. Sudah, lebih baik pulang ke rumah saja," tegasnya.

Alih-alih bentrok, Barikade Brimob yang telah berseragam lengkap dengan tameng dan pelontar gas air mata pun berhenti. Massa kembali tenang. Salah seorang anggota kepolisian maju tanpa peralatan, kemudian berdiskusi dengan mereka dan bernegosiasi.

Hasilnya, kedua pihak justru bersalam-salaman, kemudian berfoto bersama sebagai kenang-kenangan.

Apabila menilik demonstrasi mahasiswa di tempat yang sama sebelumnya, Selasa (24/9/2019), foto pun menjadi semacam benang merah.

Tingkah-tingkah lucu mereka ketika berdemo, hingga foto-foto mahasiswi 'bening', bertebaran di media sosial. Hal ini tampak pula dari viralnya poster-poster lucu, satiris, sarkastis, bahkan kadang tak berhubungan dengan aksi, terjepret kamera di samping poster-poster kritis yang tentunya mengungkap kegeraman massa.

Peneliti Bahasa Universitas Negeri Semarang (Unnes) Rahmat Petuguran menjelaskan bahwa potret celotehan generasi milenial ini unik karena relatif baru, jarang terjadi, sekaligus ganjil.

Rahmat mencoba meramu penjelasan Jamie Notter dan Maddie Grant, penulis buku When Milenials Tak Over untuk menggambarkan poret lucu kepribadian yang tercermin dari demonstrasi para generasi milenial ini.

"Berdasarkan penelitian mereka, ada empat etos dasar milenial yaitu digital, cepat, lentur, dan terbuka. Tapi saya merasa perlu menambahkan satu hal lagi, terkoneksi!" ungkapnya kepada Bisnis, Kamis (26/9/2019).

Namun, Rahmat mengingatkan kombinasi lima etos itu pula yang membuat milenial sebagai subjek sosial memiliki kekuatan konstruktif sekaligus destruktif yang luar biasa dalam mengubah wajah peradaban.

"Sifat lentur dan terbuka adalah sifat yang amat terkait dengan lahirnya perilaku milenial. Sebab, kelenturan dan keterbukaan memungkinkan mereka menerima hal baru sekaligus mengawinkannya dengan hal-hal lama," ungkapnya.

"Di tangan milenial, dua hal yang tampak sangat berjarak sehingga tampak sebagai pilihan biner justru digabung. Yang serius dan yang guyon bisa digabung. Yang sakral dan yang profan bisa menjadi satu. Yang fisik dan yang digital bisa dikombinasikan. Yang penting dan yang receh pun bisa dirangkai," tambah Rahmat.

Oleh sebab itu, sifat ini pula yang membuat milenial enggan memilih salah satu dari dua kondisi yang selama ini didudukkan sebagai pilihan biner.

"Mereka ogah memilih serius atau santai, sebab merasa bisa serius sekaligus santai. Etos serius sekaligus santai itulah yang membuat clemongan-clemongan menggelitik itu bisa lahir," jelas Rahmat.

"Saat mereka ingin kerja sekaligus santai, mereka buat sistem kerja bercita rasa liburan. Saat mereka ingin kaya tapi tak mau meninggalkan kesenangannya, mereka bikin sistem yang membuat hobi jadi sumber penghasilan. Saat mereka ingin saleh tapi tetap trendi, mereka ciptakan gaya hidup yang memungkinkan keduanya. Dengan etos lentur dan terbuka, milenial terbukti bisa menggabungkan hal-hal yang tampak bertentangan itu dalam satu ekspresi," tambahnya.

Namun, Rahmat menganggap ungkapan-ungkapan celemongan mahasiswa dalam demonstrasi kemarin, penting untuk digarisbawahi. Terutama karena pilihan bahasa mereka itu menggambarkan sesuatu yang lebih besar. Cara mereka menggunakan bahasa menggambarkan etik dan etos baru pada generasi baru.

Penulis buku Politik Bahasa Penguasa ini meyakini bahwa bahasa adalah identitas yang sahih. Jenis dan cara bahasa digunakan menggambarkan karakter mental, sosial, dan budaya penggunanya.

Oleh sebab itu, perilaku bahasa bisa menjadi perkamen otentik untuk menelusuri identitas dan bahkan ideologi penggunanya. Argumentasi itulah yang membuat bahasa bisa menjadi pintu informasi implikasional tentang penuturnya.

"Hipotesis ini relevan dengan model perubahan yang digagas sosiolog Talcot Parson. Menurutnya, sistem perilaku dikendalikan oleh sistem kepribadian. Sistem kepribadian dikendalikan oleh sistem sosial. Adapun, sistem sosial dikendalikan sistem budaya," tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
demo, smk

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top