Karhutla 2015, Greenomics: Greenpeace Perlu Berbagi Pengalaman Kolaborasi dengan Sinarmas

Greenomics Indonesia meminta Greenpeace untuk menjelaskan ke publik mengapa grup Sinarmas menjadi grup terbesar yang mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 2015, pada saat Greenpeace berkolaborasi dengan raksasa kertas dan sawit tersebut.
Herdiyan
Herdiyan - Bisnis.com 25 September 2019  |  14:34 WIB
Karhutla 2015, Greenomics: Greenpeace Perlu Berbagi Pengalaman Kolaborasi dengan Sinarmas
Foto udara Jalan Lintas Jambi-Tanjungjabung Timur yang diselimuti kabut asap karhutla di Puding, Kumpeh Ilir, Muarojambi, Jambi, Minggu (22/9/2019). Kabupaten Muarojambi masih diselimuti kabut asap karhutla yang terus memburuk dalam beberapa hari terakhir, sementara upaya pemadaman dari sejumlah pihak masih terus diupayakan. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Greenomics Indonesia meminta Greenpeace untuk menjelaskan ke publik mengapa grup Sinarmas menjadi grup terbesar yang mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 2015, pada saat Greenpeace berkolaborasi dengan raksasa kertas dan sawit tersebut.

Greenpeace dan grup Sinarmas terbukti gagal dalam mengimplementasikan kebijakan konservasi hutan karena konsesi-konsesi hutan tanaman industri (HTI) dan sawit grup Sinarmas menjadi kontributor terbesar karhutla 2015.

Demikian pandangan Greenomics merespons terbitnya laporan terbaru Greenpeace yang mengungkapkan grup-grup bisnis yang konsesi-konsesinya terkena karhutla selama periode 2015-2018.

“Tentu Greenpeace perlu berbagi pengalaman kepada publik, mengapa kolaborasinya dengan grup Sinarmas tidak berhasil mencegah dan mengendalikan karhutla pada 2015,” jelas Direktur Eksekutif  Greenomics Indonesia, Vanda Mutia Dewi, di Jakarta, Rabu (25/9/2019).

Konsesi-konsesi HTI Asia Pulp and Paper (APP)—grup Sinarmas—terbakar ratusan ribu hektare di Sumatra Selatan, Jambi, dan Riau pada 2015, pada saat salah satu raksasa bisnis kertas dunia ini sedang berkolaborasi dengan Greenpeace.

Tak hanya di konsesi-konsesi HTI, konsesi sawit grup Sinarmas di Kalimantan Barat juga terkena karhutla serius, yang menyebabkan hampir seluruh areal hutan konservasi konsesi perusahaan tersebut terbakar, pada saat Greenpeace dan GAR (konsesi sawit grup Sinarmas) sedang dalam suatu kolaborasi.

“Tentu menimbulkan pertanyaan, sebuah grup bisnis terbesar yang sedang berkolaborasi dengan Greenpeace, justru konsesi-konsesinya terbakar hingga ratusan ribu hektare pada tahun 2015,” ujar Vanda.

“Pasti ada pelajaran penting yang perlu dijelaskan oleh Greenpeace atas kegagalan kolaborasinya dengan grup Sinarmas tersebut, terutama terkait Karhutla 2015,” tambah Vanda.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memberikan sanksi ke sejumlah perusahaan-perusahaan HTI APP Sinarmas yang berlokasi di Sumatra Selatan, Jambi, dan Riau akibat karhutla 2015, pada saat Greenpeace berkolaborasi dengan grup APP Sinarmas tersebut.

Tak hanya itu, KLHK juga mencabut akasia yang baru ditanam di areal bekas terbakar 2015 di konsesi-konsesi HTI APP Sinarmas, pada saat Greenpeace berkolaborasi dengan grup APP Sinarmas.

Menyinggung karhutla tahun ini, Vanda mengatakan dari  data yang diekspose per 20 September 2019, Gakkum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) telah menyegel sedikitnya 52 konsesi korporasi, termasuk juga di dalamnya konsesi APP, APRIL, juga Malaysian giant companies, dan lain lain.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kebakaran hutan, Karhutla

Editor : Herdiyan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top