Trump Batalkan Pembicaraan Damai dengan Taliban

Pembatalan terjadi setelah kelompok Taliban menyatakan berada di balik serangan di Kabul yang menewaskan seorang tentara AS dan 11 orang lainnya.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 08 September 2019  |  19:53 WIB
Trump Batalkan Pembicaraan Damai dengan Taliban
Ilustrasi-Dampak serangan bom bunuh diri di Kabul, Afghanistan - Reuters

Bisnis,com, JAKARTA--Presiden AS Donald Trump membatalkan pembicaraan damai dengan para pemimpin Taliban, Afghanistan.

Pembatalan terjadi setelah kelompok Taliban menyatakan berada di balik serangan di Kabul yang menewaskan seorang tentara AS dan 11 orang lainnya.

“Saya membatalkan negosiasi damai dan membatalkan pertemuan rahasia dengan para pemimpin utama Taliban yang direncanakan pada hari Minggu di kompleks kepresidenan di Camp David, Maryland,” ujar Trump dalam akun Twitter seperti dikutip Aljazeera.com, Minggu (8/9/2019).

Trump menambahkan bahwa dia juga berencana untuk bertemu dengan Presiden Afghanistan.

"Jika mereka tidak dapat menyetujui gencatan senjata selama pembicaraan damai yang sangat penting ini, dan bahkan akan membunuh 12 orang tak bersalah, maka mereka mungkin tidak memiliki kekuatan untuk menegosiasikan perjanjian penting,” ujar Trump.

Menurut Trump pihak Taliban berusaha untuk membangun daya tawar yang salah.

Akan tetapi tidak jelas apakah pembicaraan AS-Taliban berakhir secara permanen atau hanya dihentikan sementara.

Para pejuang Taliban, yang kini menguasai lebih banyak wilayah Afghanistan sejak 2001, melancarkan serangan baru di kota-kota Kunduz dan Pul-e Khumri di Afghanistan utara selama sepekan terakhir dan melakukan dua pemboman bunuh diri di ibu kota Kabul.

Elis A Barreto Ortiz, anggota pasukan Angkatan Darat AS berpangkat Sersan, tewas dalam salah satu ledakan sehingga menjadikan jumlah tentara AS yang tewas di Afghanistan tahun ini menjadi 16 orang. Seorang prajurit Rumania juga terbunuh dalam serangan mematikan tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
taliban, Donald Trump

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top