Wapres Jusuf Kalla Ingatkan Siklus Resesi Ekonomi 10 Tahunan

Indonesia harus bersiap menghadapi kemungkinan siklus resesi perekonomian 10 tahunan.
Anggara Pernando
Anggara Pernando - Bisnis.com 09 Agustus 2019  |  13:58 WIB
Wapres Jusuf Kalla Ingatkan Siklus Resesi Ekonomi 10 Tahunan
Wakil Presiden Jusuf Kalla (tengah) melakukan peninjauan pameran mobil usai membuka Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) ke-27 tahun 2019 di ICE BSD, Tangerang, Banten, Kamis (18/9/2019). - ANTARA/Muhammad Iqbal

Bisnis.com, JAKARTA - Indonesia harus bersiap menghadapi kemungkinan siklus resesi perekonomian 10 tahunan.

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengingatkan siklus resesi telah memendek menjadi setiap 10 tahun. Kondisi ini dihadapi oleh Indonesia pada 1998, selanjutnya 2008 dan saat ini tahun 2019. 

"Sekarang 10 tahun setelah 2008, apakah akan terjadi resesi akibat [perang dagang] China-Amerika, Korea dengan Jepang, Brexit, terjadi masalah di Timur Tengah dengan Iran? Geopolitik di empat negara [ini] bisa menimbulkan masalah ekonomi yang besar," kata Jusuf Kalla (JK) di Hotel Borobudur Jakarta, Jumat (9/8/2019).

Jusuf Kalla menambahkan potensi terjadinya krisis sudah mulai didengungkan oleh sejumlah media arus utama di Amerika Serikat. 

"Kita juga perlu hati-hati Pak Menko [Perekonomian] sama menteri keuangan, kita tiap 10 tahun bisa terjadi krisis," katanya.

Penyebab krisis ekonomi dunia ini sendiri bersumber dari negara berbeda. Pada 1998, krisis menjalar dari Asia. Sementara, pada 2008 krisis keuangan terjadi dimulai dari kejatuhan lembaga keuangan Amerika Serikat akibat kredit macet akibat surat hutang berbasis masyarakat berpendapatan rendah. 

"Krisis [keuangan pada] 2008 kebijakan kita tidak lagi [memberlakukan] blanket guarantee [seperti 1998]. Maka tidak terjadi [dampak sangat buruk] ketika [krisis] membesar, tapi terjadi efek saja [sehingga ada bailout Bank Century]. Maka [menghadapi kemungkinan krisis pada] 2019 ini kita sudah ada undang-undang [Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan sehingga] penanganan, sehingga kebijakan [kita tidak] lagi bail out tapi bailin apabila terjadi masalah-masalah pada sistem keuangan kita," katanya.

Meski begitu, ditengah membesarnya dampak perang dagang dan proteksionesme dalam perdagangan dunia, JK menyebut Indonesia masih memiliki peluang. Selain meningkatkan ekspor dengan memperbanyak perjanjian dagang bilateral dan multilateral dengan negara dunia, Indonesia juga memiliki jumlah penduduk yang besar sebagai pasar potensial menjaga pertumbuhan ekonomi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jusuf kalla, krisis ekonomi, Brexit

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top